Potensi Pasar Hui Cilembu, Manfaat dan Masalahnya

Potensi Pasar Hui Cilembu, Manfaat dan Masalahnya

Potensi Pasar Hui Cilembu, Manfaat dan Masalahnya

 

Sumedang,Tinewss.com – Mendapat apresiasi dari Duta Besar RI untuk Jepang, Arifin Tasrif, Hui atau ubi Cilembu kian mendunia. Hal ini terungkap ketika menerima kehadiran Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, di Osaka Jepang (26/06/2019).

 

Ubi ini merupakan ubi jalar khas lokal asal kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Ubi Cilembu lebih istimewa daripada umbi biasanya karena umbi ini bila dioven akan mengeluarkan sejenis cairan lengket gula madu yang manis rasanya. Karena itu, umbi Cilembu disebut juga dengan umbi si madu. Bila umbi pada umumnya juga manis, “rasa manis umbi Cilembu ini lebih manis dan lengket dengan gula madu. Rasa manis ini membuat tenaga ekstra bagi orang yang mengkonsumsinya,” kata Asep seorang pedagang ubi di Pamulihan.

 

Menurut Asep, Hui Cilembu tidak cocok untuk di goreng atau di rebus. Karena kadar gula yang tinggi, jika di goreng akan cepat gosong, dan  kalau direbus akan hilang kadar gulanya. Pada umumnya hui Cilembu diperdagangkan dalam bentuk ubi bakar selain diolah dalam bentuk kripik, tape, dodol, keremes, selai, saus, tepung, aneka kue, mie, dan sirup. Ubi Cilembu memiliki nilai ekonomis yang tinggi karena rasa yang khas, manis seperti madu dan legit, struktur dagingnya kenyal dan menarik sehingga sangat digemari oleh konsumen.

 

Menurut penelitian, ternyata  Ubi Cilembu memiliki kandungan vitamin A 7.100 IU (international unit). Suatu jumlah yang cukup tinggi untuk perbaikan gizi bagi mereka yang kekurangan vitamin A. Padahal, umbi-umbian jenis lain, kandungan vitamin A-nya hanya berada pada angka 0,001-0,69 mg per 100 gram. Selain vitamin A yang tinggi, juga mengandung kalsium hingga 46 mg per 100 gram, vitamin B-1 0,08 mg, vitamin B-2 0,05 mg dan niacin 0,9 mg, serta vitamin C 20 mg.

 

Terkait dengan Hui Cilembu, Kabid Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Dinas PMD Kabupaten Sumedang, Idik Jaya Permana, mengatakan berdasarkan masukan dari para pegiat BUMdesa, Ekspor Ubi Cilembu perlu mendapat perhatian khusus. Menurut Idik, Ubi Cilembu memiliki potential market yang sangat tinggi. Namun demikian perlu adanya beberapa hal yang harus diperhatian baik oleh masyarakat desa sebagai petani, pedagang, maupun Pemerintah dalam menjaga kelestarian dan pengembangan pasar dan juga kesiapan lahannya.

 

Masih menurut Idik, perlu ada diversifikasi produk olahannya supaya ada nilai tambah dan tidak sebatas ubi dan tepung. “Bila memungkinkan ada alih teknologi, minimalnya untuk bahan setengah jadi di proses di Sumedang,’ terang Idik.

 

Perlu ada juga kebijakan khusus untuk pembatasan ekspor. Misalnya yang di ekspor adalah Ubi nya saja, tidak dengan arey (akar atau bibit), sehingga tidak ada kekhawatiran varietas ini dikembangkan di luar. “Ini pPenting, agar potensi pasar hui cilembu tetap bertahan,” tambah Idik. (Rauf Nuryama) ***

Komentar

  • Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Facebook
Twitter