Berita Terpopuler

Transformasi Digital Dalam Pembelajaran Menuju Generasi Cerdas  Eksotik

Transformasi Digital Dalam Pembelajaran Menuju Generasi Cerdas Eksotik

Oleh Neti Winarti

Guru SMP Negeri 1 Situraja


Sabtu (23/11) telah diselenggarakan Seminar Nasional Literasi Digital di Aula Islamic Centre Sumedang dengan pembicara Dr. Dian Sukmara, M.Pd., Dr. Diah Gusrayani, M.Pd., Dr. Iwa Kuswaeri, Graha Noviana, S.Kom.MBA., dan moderator Dr. Asep D. Darmawan, M.Pd. Tema yang diangkat dalam seminar tersebut adalah “Guru Dalam Era 4.0 Melalui Transformasi Digital Mewujudkan Generasi Cerdas Eksotik (Ekspresif, Soleh, dan Beretika).


Menelisik tema yang diangkat dalam seminar tersebut, tampak begitu berat tugas dan tantangan guru di masa sekarang. Guru harus pandai menggunakan teknologi digital , jangan kalah oleh siswa. Guru harus mampu meningkatkan kompetensi siswa melalui transformasi digital dalam merencanakan, melaksanakan, sampai dengan mengevaluasi pembelajaran. Guru pun harus mampu menggiring siswa untuk menggunakan teknologi digital secara cerdas eksotik (Ekspresif, Soleh, dan Beretika).Program cerdas eksotik digulirkan Bupati Sumedang pada peringatan Tahun Baru 1 Muharam 1441 H di Mesjid Agung Sumedang. Program cerdas eksotik merupakan sebuah gerakan bersama dalam membentuk generasi cerdas dan berakhlakul karimah.


Seperti yang dikemukakan Dr. Dian Sukmara, M.Pd. , selaku pembicara dan sekaligus menjabat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Sumedang. Eksotik merupakan kependekan dari ekspresif, soleh, dan beretika. Ekspresif diartikan mampu mengungkapkan perasaan, emosi, memberikan informasi dalam bentuk selain verbal, mencari makna dari perasaan orang lain, membuat sikap saling mengerti, menggambarkan sikap dan sifat seseorang, meningkatkan kreativitas, memberi pengaruh dan menghargai keberadaan orang lain.


Soleh diartikan mempunyai aqidah bersih (salimul aqidah), beribadah yang benar (shahihul ibadah), berakhlak yang kokoh ( matinul khuluq), kuat jasmani ( qowiyyul jismi), intelek dalam berpikir (mustaqqopul fikri), mampu melawan hawa napsu ( mujahadatun linafsihi), pandai menjaga waktu ( harishun ‘ala waqtini), teratur dalam segala urusan ( munazhzhamun fi syu’unihi), mandiri dari segi ekonomi (qodirun ‘alal kasbi), dan bermanfaat bagi orang lain (naafi’un liqhoirihi).


Beretika mengandung arti mampu bersikap sopan santun dan ramah, perhatian terhadap orang lain, toleransi dan rasa ingin membantu, mampu mengendalikan emosi, menghormati yang lebih tua, menghargai sesama, menyayangi yang lebih muda, dan pandai menempatkan diri.


Melalui program cerdas eksotik diharapkan tidak ada perilaku salah atau menyimpang dari para siswa dalam memanfaatkan teknologi digital. Seperti yang kita lihat di masyarakat, banyak siswa tawuran gara-gara perang mulut di media sosial. Berawal dari celoteh nyeleneh, komentar negatif, hingga berakhir dengan bullying. Apalagi ditambah berita hoaks yang lebih memicu dan membakar emosi mereka. Belum lagi maraknya konten pornografi dan pornoaksi yang merusak mental dan otak mereka hingga enggan dan malas belajar. Dalam kasus ini, perlu adanya pengawasan dari orang tua beserta guru dalam penggunaan HP dan alat teknologi lainnya.


Penyimpangan penggunaan teknologi digital juga terjadi dalam kaitan pembelajaran di kelas yaitu adanya produk tugas yang sama karena ramai-ramai copy paste dari penelusuran secara online yang diunggahnya. Mereka berbuat tidak jujur, menyontek karena malas sehingga kehilangan kreativitas akibat dimudahkan oleh zaman yang serba instan ini. Dalam kasus ini, guru diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran yang mengarah pada HOTS (High Order Thinking Skill) sehingga tidak lagi memberi tugas yang mudah dicari dan tersedia di media online. Karena melalui pembelajaran berorientasi HOTS siswa diarahkan untuk mempunyai kemampuan berpikir kritis , logis reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning), pembelajaran berbasis masalah ( Problem Based Learning), belajar penemuan (Discovery, Inquiry) menjadi peluang bagi guru untuk menerapkan kegiatan pembelajaran pada level HOTS, agar hasil tugas yang dikumpulkan siswa terhindar dari copy paste. Jenis–jenis pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan tingkat tinggi sedang dikembangkan oleh P4TK Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (PKP) berbasis zonasi.


Melalui transformasi digital guru diharapkan mampu memosisikan siswa sebagai pengguna teknologi yang berkarakter, bukan malah terlindas oleh teknologi dan mengubah karakter bangsa.  Transformasi digital dalam pembelajaran diharapkan mampu mencetak anak yang berakhlakul karimah, jujur, mampu mengendalikan emosi, dan berbuat baik untuk bekal di akherat nanti. Ini semua tidak terlepas dari peran guru sebagi garda terdepan pencetak generasi yang cerdas eksotik seperti yang kita harapkan. Dengan demikian, secara langsung sektor pendidikan di kabupaten Sumedang berperan melaksanakan salah satu program pemerintah, yaitu penguatan pendidikan karakter (PPK). Seperti yang kita ketahui bersama program ini telah dicanangkan melalui Perpres no 87 tahun 2017.


Tulisan ini  sebagai salah satu tugas peserta Seminar Nasional Literasi Digital 2019, yang diselenggarakan Tinewss.com di Aula Pusdai Sumedang tanggal 23 November 2019.



Komentar

  1. Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Surat Pembaca

Toilet UIN Sunan Gunung Djati Bandung Seperti Gudang Universitas seharusnya menjadi tempat yang n...

Cameliasari
Kategori