90 Persen Produk e-Digital Berasal Dari Asing, Fudiki Ajak Masyarakat Cintai Produk Dalam Negeri

Depok, TiNewss.com – Sekitar 90 persen produk yang dijual di e-commerce atau marketplace adalah produk-produk yang berasal dari luar negeri, sisanya merupakan produk lokal. Dan yang paling banyak dibeli masyarakat di tanah air, juga produk luar tersebut. Atas dasar hal tersebut, maka penting bagi produsen produk lokal untuk berpikir dan bersaing dengan asing termasuk juga para pembeli agar lebih mencintai produk dalam negeri.

Demikian disampaikan oleh Ketua Umum Forum UKM Digital Kreatif Indonesia (Fudiki) Ir. Tjahjo Ruruh Djamiko, MM., MBA, saat menjadi Narasumber dalam seminar di Depok beberapa hari yang lalu.

Menurut Tjahjo, ketersediaan produk lokal sebenarnya cukup banyak dan bisa bersaing dengan produk luar negeri. Namun demikian, masih sedikit masyarakat pelaku bisnis khususnya UMKM untuk menjual produknya secara digital. “Ini yang perlu kita dorong, agar rekan-rekan pelaku UMKM bisa dan mau menjual produknya secara digital,” katanya.

Kita tahu masih punya masalah dalam hal digitalisasi. Pertama, masalah pembeli (buyers). Masyarakat di kita masih senang membeli produk-produk yang berasal dari luar negeri. Keunggulan mereka (produk asing) selain dari sisi kemasan cukup menarik, harganya relatif murah ditambah lagi dengan fitur-fitur menarik lainnya, seperti free ongkir.

Kedua, masalah business process para pelaku usaha ekonomi rakyat milenial (eranial). Bisnis proses masih bermasalah mulai dari penyediaan bahan baku, ketersediaannya, distribusi sampai dengan reseller. Proses yang terjadi ini mengakibatkan biaya tinggi (high cost) dan berujung harga jual yang tidak kompetitif.

Ketiga, Regulasi. Dukungan dari pemerintah untuk membuat peraturan tata niaga yang memang belum membuat kita memiliki daya saing yang tinggi.

“Semuanya harus satu pemahaman, selain saling terkait, juga untuk saling bersinergi agar tujuan bersama untuk mencapai kesejahteraan bisa tercapai,” tutur Tjahjo.

Dalam hal ini, Fudiki akan mengambil peran untuk mendigitalisasi produk apapun yang dihasilkan oleh UKM yang menjadi anggotanya. Dengan digitalisasi ini, secara sederhana antar anggota bisa saling melakukan barter selling, karena ada satu komunitas yang ternyata saling membutuhkan dalam wadah digital ini. “Ini lebih mudah, lebih murah, dan bisa saling berbagi. Berbagi kebutuhan masing. Ini pasar kaget dalam bentuk digital,” tuturnya berseloroh.

Fudiki sendiri menutu Tjahjo, sedang melakukan roadshow dalam bentuk Seminar, maupun workshop untuk mengajak para pelaku UKM untuk lebih kreatif dalam menciptakan pasar dan mengaksesnya.

Senada dengan Ketua Umum Fudiki, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Depok, Sidik Mulyono mengatakan, kegiatan seminar dan talkshow ini merupakan awal yang baik untuk mempertemukan seluruh komunitas-komunitas bisnis usaha kecil menengah. Dari kegiatan ini bisa melihat kebutuhan dari masing-masing pelaku usaha serta forum ini baik untuk saling berbagi pengalaman ada dihadirkan beberapa expertnya.

“Para pelaku usaha yang hadir dibekali dengan sharing motivasi agar mengerti akses pasar digital,” kata Sidik. (Rauf Nuryama)***

%d blogger menyukai ini: