ASN Era Disrupsi: Suatu Keniscayaan

Sumedang, TiNewss.com – ASN era disrupsi adalah keniscayaan. Kita tak mampu mengelak akan gelombang ini. Begitu pula para ASN di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang harus mampu menyesuaikan dengan era baru, era disrupsi. Demikian disampaikan Prof. Rheinald Kasali, Ph.D., pada Seminar Nasional bertema ASN di Era Disrupsi yang diselenggarakan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, di Aula Plaza Asia, tadi siang (20/2/19).

Menurut Rheinald, ASN harus mampu menghadapi era disrupsi. Seorang ASN harus mampu menciptakan inovasi baru bukan hanya mengikuti pola-pola lama yang sudah ada sejak lama. Ia menganalogikan pada para ASN yang hanya mengikuti jalan yang sama tiap harinya ketika menuju ke kantor. Kalau kondisi ini terus dilakukan tanpa inovasi, kemungkinan tidak akan mampu melewati era disrupsi atau dengan kata lain era disruptive (mengganggu) inovation.

Rhenald juga mengatakan perubahan dalam pemerintahan adalah sebuah keniscayaan. Perubahan layanan kepada masyarakat tidak lagi menggunakan prinsip lama, kalau masih bisa dipersulit kenapa dipermudah. Situasi sekarang telah berubah, setiap layanan memerlukan kecepatan, salah satunya menggunakan aplikasi berbasis internet.

Dalam perubahan, ada kalanya dilakukan secara paksa. Hal ini terutama pada awal-awal adanya perubahan. Tidak semua memiliki pemahaman dan kehendak yang sama untuk melakukan perubahan.

Rhenald mencontohkan seekor monyet dan seekor anjing yang akan menyebrang sungai dan harus melewati batu-batu yang mesti diloncati. Beruntung batu-batu itu berjarak dekat sehingga monyet dan anjing bisa meloncat bersama-sama.

Nah sial bagi monyet dan anjing pada ujung sungai yang mendapati jarak batu dengan daratan agak jauh. Masalah muncul antara monyet dan anjing tidak memiliki keberanian yang sama untuk meloncat menuju daratan. Setelah dicoba beberapa kali, dan sampailah pada saat keduanya harus melompat. Ternyata hanya monyet yang melompat sedangkan anjing malah diam karena tidak ada keberanian.

Situasi tegang saling menarik ini, berakhir dengan cara monyet menarik sekeras kerasnya anjing tersebut, yang pada akhirnya anjing bisa loncat dengan sempurna tanpa masalah. “Nah melihat kisah ini, terkadang perubahan itu harus dilakukan secara paksa,” terang Guru Besar Universitas Indonesia.

Pada seminar nasional tersebut, hadir membuka acara seminar Bupati Sumedang H. Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati Sumedang H. Erwan Setiawan, Sekda Sumedang Herman Suryatman, para kepala Dinas/Badan/kantor, para kabag, sekretaris, camat, lurah dan kasubag program di lingkungan pemerintah kabupaten Sumedang.

Bupati Dony berharap para peserta seminar menyimak dengan baik apa yang disampaikan nara sumber untuk dijadikan bekal dalam bekerja sehari-hari menuju Sumedang Simpati. Sebuah visi menuju Sumedang yang Sejahtera, Agamis, Maju, Profesional, dan Kreatif. Seminar ini untuk mendukung upaya visi Sumedang yang ke-4, yaitu Sumedang Profesional aparaturnya dalam melayani masyarakat. (asepddarmawan)***