Berbicara Menunjukkan Kecerdasan Kita

Banyak pandangan yang mengatakan bahwa berbicaranya seseorang akan menunjukkan kecerdasan orang yang berbicara. Tata urutan atau sistematikanya orang berbicara, pilihan diksinya, dan isinya, dan mudah dipahaminya apa yang disampaikan akan menunjukkan kompetensi dan kualitas berpikirnya orang yang berbicara.

Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang yang berbicara asal bicara. Tata urutan pembicaraan, pemilihan diksi, dan isinya tidak diukur dan dipikir dengan matang, sehingga bisa jadi informasi yang ingin disampaikan tidak tersampaikan dengan baik.

Berbicara merupakan salah satu dari keterampilan berbahasa. Keterampilan berbahasa itu ada yang reseptif dan ada yang produktif. Keterampilan berbahasa yang reseptif adalah keterampilan menyimak dan keterampilan membaca. Dua keterampilan berbahasa yang reseptif, sudah saya bahas dalam pojok asdar terdahulu. Dan keterampilan berbahasa produktif adalah keterampilan berbicara dan keterampilan menulis.

Keterampilan berbahasa reseptif artinya keterampilan berbahasa dalam menerima atau proses menerima informasi dalam bentuk menyimak dan membaca. Sedangkan keterampilan berbahasa produktif adalah keterampilan yang mampu menghasilkan informasi dalam bentuk berbicara dan menulis.

Keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang agak tinggi. Berbicara yang dimaksud adalah bagaiamana seseorang mampu menyampaikan informasi dengan baik dan dapat diterima dengan baik pula.

Tidak mudah dalam berbicara. Sehingga banyak orang yang berlatih atau kursus berbicara. Apalagi kalau berbicara di hadapan banyak orang. Bisa jadi apa yang sudah dikonsep hilang tiba-tiba manakala sudah berdiri di hadapan banyak orang. Kalau pun bisa berdiri di hadapan banyak orang, tidak jarang suara bergetar atau tangan bergetar. Ini tentu harus dihilangkan dengan cara berlatih.

Orang yang keterampilan berbicaranya baik, intonasi berbicara, isi pembicaraan, struktur isi pembicaraannya, pilihan diksi yang digunakan dan mimiknya akan menunjukkan kualitas orang yang berbicara. Hal mudah bisa dilihat dari audiens yang hadir. Kalau audiens diam dan menyimak dengan seksama, berarti apa yang disampaikan pembicara enak di dengar.

Oleh karenanya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika kita akan berbicara, yaitu:

  1. Lihat dulu siapa yang akan jadi audiensnya. Dari sini kita dapat menentukan tema yang akan disampaikan dalam berbicara itu. Sesuaikan tema dengan audiens agar apa yang akan disampaikan dapat diterima dengan baik.
  2. Pilihlah dikisi yang tepat sesuai dengan audiens. Jangan sampai berbicara di hadapan para petani i desa menggunakan bahasa teknologi atau bahasa yang sulit. Atau berbicara di hadapan mahasiswa tetapi menggunakan bahasa yabg bisa digunakan dalam dunia pertanian. Tentu ini tidak akan efektif dalam berkomunikasi. Pilihlan bahasa yang mudah dipahami oleh audiens. Jangan menggunakan istilah-istilah asing yang mungkin tidak akan dipahami audiens.
  3. Sebagai pemula, gunakan coretan atau konsep atau catatan kecil tentang pokok-pokok yang akan disampaikan. Jangan sekali-sekali membuat naskah layaknya naskah pidato karena kalau lupa akan menyulitkan. Dan jangan pula menghapalkan naskah pidato.
  4. Pergunakan mimik muka yang baik. Artinya ketika berbicara gunakan mimik yang manis dan diberikan untuk semua. Jangan sampai muka manis diberikan ke hadirin sebelah kiri sedangkan muka masam diberikan ke hadirin sebelah kanan. Mimik muka dan senyum dibagi merata dengan tatapan mata ke hadirin. Jangan melihat ke atas atau ke bawah saja. Tetapi tatapan mata diberikan ke semua audiens.
  5. Gunakan diksi dan konjungsi antar kalimat dengan baik. Pilihlah kata-kata yang baik yang memberikan kemudahan informasi itu tersampaikan dengan baik. Pilihlah konjungsi antar berbicara yahg variatif, agar tidak membosankan. Misalnya, adapun, sedangkan, sementara itu, di lain pihak dan lain-lain
  6. Awali berbicara dengan salam dan akhiri dengan salam. Sehingga kita akan nyaman dan enak dalam berbicara. Semoga*
%d blogger menyukai ini: