Hujan dan Badai, Wartawan Meninggal, Sampai Berita Hoax Terjadi Pasca Tari Umbul Kolosal

Sumedang, Tinewss.com – Pasca atraksi kolosal tari umbul yang melibatkan 5.555 penari dari seluruh desa yang ada Sumedang, terjadi hujan dan badai di lokasi yang dijadikan tempat perhelatan akbar tersebut. Panggung kehormatan yang di tempati Bupati, Wakil Bupati, Kapolres, Dandim 0610 beserta para tamu kehormatan lainnya luluh lantak diterjang badai yang diserta hujan deras, Selasa (31/12/2019)

Festival Tari Umbul Kolosal, maha karya masyarakat Sumedang yang dalam rangka Ngamumule budaya Sumedang, yang juga sudah mendapatkan predikat Warisan Budaya Takbenda dari Kemendikbud RI berakhir kemarin sekitar pukul 11 siang. Sebelumnya santer diberitakan pasca pegelaran tari umbul akan dilanjutkan dengan hiburan dan pesta kembang api menyambut datangnya tahun baru 2020, namun terkendala izin dari instansi terkait, kemudian berhenti sampai acara umbul dan bubar. Selanjutnya pesta kembang api, di pusatkan di kota, sebagaimana diberitakan media ini.

Bubarnya peserta dan panitia termasuk penonton dan para pewarta dari lokasi acara, ternyata menyisakan cerita yang kemudian viral di media sosial yang ada. Hujan dan Badai yang meluluhlantakan panggung kehormatan menjadi viral. Pangung yang menjadi tempat Bupati H. Dony Ahmad Munir, duduk dan memberi sambutan pada rangkaian Festival.

Selain hujan dan badai pasca acara, festival umbul juga diwarnai dengan banyaknya peserta yang pingsan karena kepanasan, dehidrasi dan telat makan yang mengakibatkan salatri. Sebagaimana disampaikan oleh Kadinkes Kabupaten Sumedang, ada 78 peserta yang pingsan di lokasi kejadian.

Tampak penari yang kecapean dan sempat pingsan di lokasi acara, dalam penanganan di lokasi Gedung Satker Jatigede (31/12/2019)

Kejadian viral lainnya, adalah meninggalnya wartawan dalam perjalanan pasca liputan. Ade Sutarya atau dikenal dengan sebutan Ade Boxer (54), wartawan majalahku menghembuskan napas terakhir dalam perjalanan pulang kerumah. Ade (Alm) sempat berhenti dalam perjalanan bersama wartawan lainnya, dan kemudian membeli dan mengkonsumsi minuman segar, yang tidak berapa lama kemudian kejang-kejang dan menghembuskan napas terakhir.

Viralnya kejadian luar biasa ini, kemudian di susul dengan berita kematian peserta (penari) di group facebook, yang menyebutkan warga tanjungsari, meninggal pasca pingsan. Namun kemudian berita ini dikonfirmasi, hoax alias bohong. Karena foto dalam gambar, ternyata bukan warga Tanjungsari, tetapi warga Kecamatan Paseh, dan saat dihubungi panitia ternyata yang bersangkutan dalam keadaan sehat. “Yang bersangkutan nangis, karena diberitakan meninggal dunia,” kata seorang panitia kepada TiNewss,com.

Tidak berhenti sampai di sini, media sosial juga dihebohkan dengan cerita “mistis” orang tua, bahwa jika dua jati sudah jadi, maka akan banyak yang menari dan meninggal di lokasi. Cerita ini pun, kemudian terklarifikasi bahwa di lokasi tidak ada peserta yang meninggal.

Cerita seputar jadigede yang diungkah akun facebook @ Tarisa Nurfitriyani pada Group Facebook di Sumedang. (31/12/2019).

 

Takdir, mungkin kata yang tepat untuk mengakhiri semua perdebatan. Bisa jadi, karena tidak diizinkannya pesta kembang api, telah menyelamatkan banyak orang dari musibah yang akan datang. Selain panas yang sangat menyengat pada saat acara, kemudian di susul dengan hujan dan badai pasca acara. Jika saja, para peserta dan penonton masih di lokasi, sangat mungkin ada musibah lainnya yang menimpa. Sebagaimana disampaikan oleh seorang wartawan media onlilne dalam group WA, “Untung para pengunjung, penari dan tamu undangan sudah pada pulang,” katanya mengomentari robohnya panggung tersebut.

Kejadian ini mendapatkan perhatian serius Sekda Sumedang, Herman Suryatman. Menurut Herman, even tari umbul yang akan diselenggarakan setiap tahun buah dari kreativias masyarakat Sumedang dari 270 Desa dan 26 Kecamatan, berjalan lancar dan sukses membetot perhatian publik. Namun sayang, pasca lancarnya even ini beredar hoax. “Kami sayangkan ada oknum yang tidak bertanggungjawab menyebar hoax. Katanya ada penari dari Tanjungsari meninggal dunia. Informasi tidak benar itu dilengkapi dengan foto saya yang sedang Takziah (red: turut berduka cita),” kata Herman (31/12/2019) malam.

Diungkapkan Herman, foto tersebut adalah foto yang diambil saat takziah ke rumah duka (Alm) Ade Sutarya, seorang jurnalis yang meninggal di Tomo setelah pulang dari Jatigede. “Alhamdulillah semua penari pulang ke rumah masing-masing. Memang ada 78 penari yang ditangani posko kesehatan dengan keluhan pusing dan lemes, ada juga beberapa yang pingsan,” tutur Herman.

Lebih lanjut, Herman memohon kepada warga masyarakat agar berhati-hati dalam menyimak media sosial dan broad cast dari WA. “Pastikan informasinya akurat dan sumbernya akuntabel. Jangan sampai terpancing ikut memviralkan berita tidak benar atau hoax,” tegas Herman.

Dijelaskan juga bahwa panitia pelaksana sudah melakukan persiapan dan antisipasi terkait hal tersebut, yakni dengan disiapkannya tenaga medis, perawat, bidan dan tenaga lainnya sebanyak 42 orang. Selain itu, di lokasi juga disiapkan 7 unit ambulan. (Rauf Nuryama)***