Ini Yang Menarik dari Paragliding Sumedang?

Sumedang, TiNewss.com – Sebagian masyarakat masih ada yang belum mengetahui menariknya event besar West Java Paragliding World Championship and Culture Festival 2019, walaupun Pemerintah Kabupaten Sumedang sudah sangat bekerja keras memasyarakatkan event besar itu. Mereka tidak mengetahui sisi keindahan yang dapat dinikmati ketika para atlet dalam dan luar negeri sedang beratraksi dan meliuk-liuk di udara Sumedang yang sangat eksotis itu. Hal ini setidaknya terlihat dari jumlah penonton lokal yang menonton atraksi para atlet paragliding. Mungkin pula karena lokasi take off para atlet jauh dari pemukiman penduduk, seperti yang di Batudua Kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang belum lama ini.

Seperti diketahui bahwa Pemerintah Kabupaten Sumedang telah dan sedang melaksanakan event besar West Java Paragliding Word Champhionship and Culture Festival 2019 atas kerja bareng dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Pusat. Kegiatan ini mengambil lokasi di Toga, Batudua dan Kampung Buricak Burinong (Cisema) selama seminggu dari tanggal 22 -28 Oktober 2019.

img-1572173329.jpg

Bagi sebagian masyarakat masih belum menikmati keindahan olah raga paragliding atau paralayang ini. Yang mereka ketahui hanya terbang menggunakan parasut.

Padahal bila dinikmati menggunakan otak kanan, atraksi yang benar-benar memacu adrenalin adalah ketika para atlet paralayang sedang seolah-olah menari di atas udara. Warna-warni parasut, tinggi rendahnya parasut dan meliuk-liuk di udara membuat mata terasa nyaman– indah luar biasa. Benar-benar amazing!

Apalagi bila menarinya para atlet ini dinikmati dari puncak Batudua kecamatan Cisitu Kabupaten Sumedang yang nyaris sempurna indahnya dengan hamparan waduk Jatigede lengkap dengan gunung di tengahnya. Bahkan tentu lebih eksostis manakala bekas galian Gunung Julang disulap jadi lapangan Golf. Tentu akan memiliki nilai tambah luar biasa.

Hal ini seperti dituturkan pula oleh salah seorang pewarta televisi nasional, Husni, “Indahnya paralayang manakala para atlet sedang menari-nari di atas udara. Momen ini yang sangat saya tunggu sejak beberapa hari ini,” katanya.

Jurnalis yang masih muda ini rela berpanas- panasan tiap hari hanya ingin mendapatkan video yang bagus untuk ditayangkan di televisinya.

Lain jurnalis, lain pula dengan seorang ibu yang berteriak-teriak histeris ketika melihat seorang atlet yang akan take off tetapi parasutnya malah menggulung, “Ujang ke heula, ujang ke heula… ,” dengan suara keras agar sang atlet mengurungkan niatnya untuk tidak terbang. Si ibu menggunakan bahasa Sunda yang meminta untuk menunda keberangkatan, kira-kira, “jangan dulu naik, jangan dulu naik…” pada atlet asing yang belum tentu memahami apa yang si ibu itu katakan. Tak ayal tingkah laku ibu ini membuat sebagian penonton tertawa.

Olah raga paralayang bagi masyarakat memang belum begitu memasyarakat. Dan pada zaman bupati Sumedang sekarang paralayang benar-benar dijadikan even besar sebagai awal pengembangan destinasi wisata di Sumedang.

Antusiasme pemerintah dan masyarakat pada olah raga yang penuh adrenalin ini telah menggeliat. Mudah-mudahan ke depan kegiatan serupa menjadi agenda tahunan pemerintah Sumedang, dan memiliki multiplier effect bagi masyarakat Kabupaten Sumedang (asdar)