Kosmologi Islam (10)

ADA BERAPA JUMLAH BINTANG DI LANGIT?

Allah SWT berfirman:

إِنَّ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلٰفِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَءَايٰتٍ لِّأُولِى الْأَلْبٰبِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal,”

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيٰمًا وَقُعُودًا وَعَلٰى جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بٰطِلًا سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran/3: 190-191).

Apakah ada cara untuk mengetahui jumlah bintang di langit?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, sekelompok ilmuwan dari Universitas Hawaii telah mencoba menghitung jumlah pasir di Bumi. Sebagaimana dilansir laman Exploring Our Fluid Earth, disebutkan bahwa jika mengasumsikan sebutir pasir memiliki ukuran tertentu yang sama dan menghitung berapa banyak butir pasir dalam satu sendok teh, lalu mengalikan jumlahnya dengan semua pantai dan gurun di seluruh dunia, maka Bumi memiliki sekitar tujuh triliun lima ratus kuadriliun butir pasir.

Sementara itu, menurut laman ESA (European Space Agency), jumlah bintang yang ditampilkan saat malam hari hanyalah beberapa ribu dari total keseluruhan bintang yang ada. Jumlah bintang di alam semesta diketahui mencapai 70 sekstiliun atau sama dengan angka 7 diikuti 22 angka 0 di belakangnya.

Dengan demikian, jumlah bintang-bintang di langit lebih banyak daripada jumlah pasir di Bumi. Terlebih, saat ini mungkin sekali masih banyak bintang yang belum terdeteksi oleh sains.

Dilansir dari situs space.com, astronom David Kornreich, pendiri situs “Ask An Astronomer” di Cornell University memperkirakan jumlah bintang di galaksi Bima Sakti pada kisaran angka 100 miliar. Apabila perhitungan ini diterapkan ke seluruh Alam Semesta yang memiliki sekitar 10 miliar galaksi, maka perkiraan jumlah bintang bisa mencapai angka 1 dengan 24 nol di belakangnya atau 1 septillion.

Tunggu dulu, satu septillion adalah perkiraan jumlah bintang di ‘alam semesta teramati’. Kata ‘teramati’ di sini berarti segala sesuatu yang dapat dilihat dari Bumi. Karena alam semesta terus meluas maka objek yang awalnya dekat akan semakin menjauh.

Sedangkan ‘alam semesta tak teramati’, dari namanya saja pasti bisa diduga, tidak ada yang tahu seperti apa keadaannya di sana.

Hasil Penelitian Terkini

Dilansir dari infoastronomy.org, David Kornreich, Profesor di Ithaca College New York, pendiri Situs Ask an Astonomer di Cornell University, mengatakan bahwa hal pertama yang harus dijawab terlebih dahulu adalah, apa itu “alam semesta”?

“Saya tidak tahu, ada berapa jumlah bintang, karena saya tidak tahu seberapa besar alam semesta”, katanya.

Alam semesta yang dapat diamati diketahui memiliki lebar 13,7 miliar tahun cahaya. Namun kita tidak atau belum tahu, ada apa di luar alam semesta teramati.

Beberapa astronom percaya bahwa kita hidup dalam multiverse, bahwa ada alam semesta lain seperti alam semesta kita, namun dalam entitas yang lebih besar.

Agar lebih mudah dalam memprediksi jumlah bintang, banyak astronom menggunakan cara yang sederhana, yaitu memperkirakan jumlah bintang dalam suatu galaksi lalu dikalikan dengan perkiraan jumlah galaksi di alam semesta. Tapi itu pun masih rumit, karena jumlah galaksi di alam semesta pun belum diketahui secara pasti.

Hasil penelitian yang diterbitkan Jurnal Science pada bulan Oktober 2016, mempublikasikan ada sekitar 2 triliun galaksi di alam semesta yang dapat diamati, atau sekitar 10 kali lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya.

Sementara dalam sebuah artikel yang dirilis pada Live Science, penulis utama Christhoper Concelice, seorang Profesor Astrofisika di University of Nottingham Inggris, menyebutkan ada sekitar rata-rata 100 juta bintang dalam setiap galaksi.

Penelitian lain menyebutkan ada sekitar 100 milyar bintang pada galaksi bima sakti. Sementara yang lain memprediksi ada seikitar 200 milyar bintang, atau lebih.

Jadi bila kita mengikuti hasil studi bahwa ada sekitar 2 triliun galaksi di alam semesta, lalu dikalikan dengan perkiraan rata-rata jumlah bintang pada tiap galaksi, yaitu 100 milyar, maka hasilnya adalah: 200.000.000.000.000.000.000.000, atau 200 dengan 21 angka 0 di belakangnya; jumlah yang sangat sangat banyak.

Refleksi

Bumi yang kita huni ini hanyalah salah satunya. Bila bumi dilihat dari angkasa, akan tampak sebagai sebuah titik kecil saja di tengah milyaran titik-titik lainnya yang tidak terhitung. Di dalam titik bumi yang kecil itu, ada manusia yang jumlahnya saat ini lebih dari tujuh milyar. Salah satunya adalah masing-masing kita. Bila bumi saja hanyalah sebuah titik kecil, apalah artinya seorang manusia seperti kita? Namun selalu saja ada manusia yang berani-beraninya mengingkari kekerdilannya seraya menantang aturan Penciptanya.

Allahu Akbar. Maha Benar Allah dengan Firman-Nya:

Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl/: 8).

Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”
(QS. al-Hajj/22: 70).

Berdasarkan hasil-hasil penelitian di atas, harus diakui bahwa sains memiliki keterbatasan dalam mengungkapkan fakta benda-benda langit. Keterbatasan sains dalam mengungkap sekedar jumlahnya saja ditambah lagi dengan kenyataan terus meluas/mengembangnya alam semesta dengan kecepatan cahaya, 300.000 km/detik, maka setiap hari alam semesta ini meluas sejauh: 60x60x24x300.000 km = 25.920.000.000 km.

Tidak heran hasil penelitian terkini (2016), menyebut jumlah bintang 10 kali lebih banyak dari yang diketahui sebelumnya. Maka mustahil bagi manusia tanpa izin Allah untuk bisa mengetahui secara persis sekedar jumlahnya saja, apa lagi menjelaskan jenis makhluk dan bentuk kehidupan seperti apa yang ada pada setiap planet.

Apa yang bisa dijelaskan sains itu baru mencakup makhluk Allah di langit pertama atau langit dunia, langit yang terdekat dengan bumi, yang oleh sebagian astronom disebut “universe”.

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.” (QS. Al-Shaffat/37: 6).

Padahal al-Qur’an sudah nenegaskan, “…Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia.” (QS. Ali Imran/3: 191).

Bagaimana dengan langit kedua, ketiga dan seterusnya sampai pada makhluk Allah yang paling tinggi dan paling besar, ‘Arasy?, yang oleh sebagian astronom keseluruhannya disebut sebagai “multiverse”, sebagian yang lain menyebutnya sebagai “alam semesta yang tidak teramati”. Baru sampai di situ saja apa yang bisa dikatakan sains tentang alam semesta di luar langit dunia.

Ketika sains sudah sampai pada batas kemampuannya, maka satu-satunya cara adalah kembali kepada sumber Primer dari Sang Maha Pencipta Alam Semesta (al-Qur’an) dan apa yang sudah diinformasikan kepada/oleh RasulNya (al-Hadits).

Rujukan

Via Al-Qur’an Indonesia http://quran-id.com

infoastronomy.org

https://id.wikipedia.org/

www.suara.com

idntimes.com

sains.kompas.com

 

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

%d blogger menyukai ini: