Kosmologi Islam (11)

HAKIKAT TUJUH LANGIT

Al-Qur’an menyebutkan hakikat tujuh langit sebanyak tujuh kali, yaitu pada Firman Allah:

  1. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS. 17: 44).
  2. “Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang besar?” (QS. 23: 86).
  3. “Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit dunia dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” 
    (QS. 41: 12).
  4. “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula (tujuh) bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” 
    (QS. 65: 12)ِ
  5. “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” 
    (QS. 67: 3).
  6. “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”
    (QS. 71: 15-16).
  7. “Dan kami bina di atas kamu tujuh buah langit yang kokoh” 
    (QS. 78: 12)ِ

Fakta pengulangan sebanyak tujuh kali pada tujuh ayat di atas, adalah salah satu mu’jizat tersendiri, bahwa yang dimaksudkan yaitu jumlah secara pasti, bukan berarti bilangan yang menunjukkan banyak seperti sering diungkapkan sebagian ahli tafsir. Allah Maha Tahu apa yang telah diciptakan-Nya.

Pendapat Ahli Tafsir

Ibnu Katsir, ketika menjelaskan ayat ke-12 (akhir) surah ath Thalaaq, menerangkan: 
“Bahwa Allah SWT mengekspos kemampuaan-Nya yang prima dan kekuasaan-Nya yang agung, untuk mempertegas keagungan apa yang telah disyariatkan agama yang lurus, seperti pada ayat-ayat penciptaan tujuh langit dan tujuh bumi di atas.

Lanjut Ibnu katsir, tidak ada perbedaan ahli tafsir mengenai jumlah langit tujuh susun, akan tetapi berbeda pandangan pada bumi; Ada yang mengatakan tujuh bumi sebagaimana pengertian ayat ke-12 dari surah ath Thalaaq di atas.

Adapun pendapat lain mengatakan, yaitu satu bumi, kata persamaan yang disebutkan ayat, bukan pada hitungan tetapi penciptaan dan design, yaitu tujuh langit dan bumi sama design-nya dan keperfekannya. 

Sayyid Quthub dalam tafsirnya (fi Dzilalil Qur’an) mengomentari: “Bahwa tujuh langit itu kita tidak mengetahui fakta signifikasinya, dimensi dan areanya, bisa saja salah satu di antaranya yang kita kenal adalah bumi kita ini dan enam lainnya hanya Allah yang menetehui. Bisa juga berarti bumi ini sama jenisnya dengan tujuh langit, yaitu sama-sama dalam susunan dan karakteristiknya”.

Kesimpulan tentang tujuh langit, bahwa dengan kemajuan sains dan teknologi yang ada sampai sekarang ini, kita tidak akan menjangkau hakikat tujuh langit yang diberitakan Allah SWT melalui Nabi penutup Muhammad SAW, kecuali hanya bagian kecil saja dari langit dunia, yang dikhususkan Sang Pencipta SWT dengan bintang-bintang, planet-planet dan satelit-satelit.

Bintang-bintang merupakan sarana manusia untuk mengetahui bagian yang terjangkau dari alam semesta, sebagaimana firman Allah:

dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui” 
(QS. 41: 12).

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala.
(QS. 67: 12).

Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun?” 
(QS. 50: 6).

Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang.
(QS. 37: 6).

Penyebutan langit pada ayat-ayat di atas dengan bentuk single, bukan plural, dan semua digambarkan sebagai pemandangan yang dihiasi dengan bintang-bintang dan planet-planet serta diidentifikasikan sebagai langit dunia secara khusus. 

Ayat-ayat di atas sekaligus mengkomfirmasikan fakta tujuh langit, yaitu tidak diidentifikasikan sebagai langit dunia, dan pada ayat ke-6 dari surah Qaaf diganti tanda Tanya Firman Allah: 

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka?”, mempertegas bahwa langit dunia adalah satu-satunya langit yang dapat dilihat oleh manusia.

Adapun enam sisa langit yang lain, tanpa diberitahukan oleh Allah SWT dalam al-Qur’an, tapi telah diperlihatkan kepada nabi Muhammad SAW pada malam perjalanan “Isra dan Mi’raj”. Beliau SAW sendiri menceritakannya secara langsung lewat haditsnya; manusia tidak akan mengetahui hakikat enam langit tersebut.

Semua yang kita pahami dari al-Qur’an menggambarkan enam langit itu, ialah identik dengan langit dunia dan tersusun bersamanya sebagai kesatuan (grup) tujuh langit, sebagaimana Firman Allah:

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?
(QS. 67: 3).

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?
(QS. 71: 15-16).

 

Jelas dari kedua ayat di atas bahwa tujuh langit, termasuk langit dunia, tersusun dalam satu grup local (kesatuan), bagian luar menutupi bagian dalamnya. Kalau tidak, semua yang ada di langit dunia akan jatuh pada langit-langit yang lain. Jadi bulan dan matahari, keduanya dari anggota “super galaksi langit dunia”, akan jatuh pada semua langit tujuh.

Al-Qur’an mengistilahkan “gerakan” pada langit satu, dan mengistilahkan dengan “al-‘uruj” (naik) pada langit tujuh. Kata “al-‘uruj” (naik) dalam bahasa arab, yaitu gerakan dalam garis kurva lentur.

Telah terbukti secara ilmiah bahwa gerakan benda di bagian yang dapat dijangkau dari alam semesta tidak dapat berada di garis lurus. Setiapa enda yang melintas angkasa membungkuk (miring) karena penyebaran materi dan energi di alam semesta, dan dampak dari setiap gravitasi benda (dalam berbagai bentuknya) serta medan magnet energi (dengan berbagai skalanya), atas pergerakan objek-objek dalam bagian yang terjangkau dari alam semesta.

Allah berfirman:

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya” (QS. 15: 14)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”
(QS. 32: 5).

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang ke luar daripadanya, apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepadanya. dan Dia-lah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun.” 
(QS. 34: 2).

Pada awal abad ke-20, studi astronomi dan fisika telah menunjukkan lengkungan alam semesta yang dapat dijangkau, dan kelengkungan ruang dan waktu (keduanya saling berhubungan). Jika diasumsikan – bisa atau tidak – manusia bergerak mengarungi bagian yang terjangkau dari langit dunia (luar angkasa), maka jawabannya adalah mustahil, tidak bisa karena keterbatasan sarana dan prasarana yang ada saat ini, dibandingkan luasnya bagian yang terjangkau dari alam semesta ini. Ditambah keterbatasan umur manusia serta minimnya potensi yang dicapai sains dan teknologi hingga saat ini.

Jika pun manusia berusaha bergerak ke arah tertentu di bagian alam semesta yang terjangkau ini, maka akan kembali lagi ke titik yang sama dimana ia memulai. Ini membuktikan bahwa langit dunia adalah bulat seperti bola. 

Oleh karena tujuh langit identik (tersusun) satu sama lain berdasarkan al-Qur’an, maka semuanya juga harus bulat dalam bentuk yang sama dan berada pada satu grup (satu status).

Jika seseorang telah sanggup mencapai kecepatan untuk menghindari gravitasi bumi menembus ruang angkasa – kecepatan escaping dari langit dunia (alam semesta) yang terjangkau tidak dapat dicapai kemampuan manusia – itu tidak mungkin terjadi karena keterbatasan umur manusia.

Dengan demikian, manusia tidak akan mungkin keluar dari lingkup langit dunia kecuali dengan izin Allah. 

Adapun masing-masing dari Malaikat yang diciptakan dari cahaya dan Jin yang diciptakan dari api, maka situasinya sangat berbeda, karena Allah SWT telah memberikan kepada masing-masing mereka kemampuan untuk mengarungi alam semesta, sejauh yang kompatibel dengan perannya di dalamnya, yaitu kapasitas yang tidak dapat disanggupi tabiat manusia yang terperangkap dalam lumpur template.

Jika roh dilepaskan dari belenggu tanah liat – salah satu privasi Allah – peningkatan kecepatan mobiliti dalam alam semesta bertambah lajunya dengan luar biasa, sebagaimana

Firman Allah: 

“(yang datang) dari Allah, yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”
(QS. 70: 3-4). 

Dengan demikian, jelas bahwa al-Qur’an menegaskan hakikat tujuh langit identik satu sama lain, bagian luar menutupi bagian dalamnya. Semua langit tersebut berbeda dari langit neubela pertama pada awal penciptaan alam semesta. 

Wallaahu A’lam.

Rujukan

my-bukukuning.blogspot.com › Tujuh Langit dan Tujuh Bumi – My Buku Kuning Center

news.rakyatku.com › 2018/04/14
Tujuh Lapisan Langit dalam Isra Mikraj Menurut Sains – Rakyatku News

https://techno.okezone.com
Subhanallah, Ternyata Langit Bertingkat-tingkat dalam Penjelasan …

https://m.facebook.com
Hakikat Tujuh Langit Peristiwa Isra

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

%d blogger menyukai ini: