Kosmologi Islam (12)

KA'BAH, POROS ALAM SEMESTA

“(Baitullah) Al-Haram adalah tanah suci poros tujuh langit dan tujuh bumi.” (Akhbar Makkah, dikutip oleh Mujahid dari Syu’ab Al-Iyman karya Al-Baihaqi).

Hadis ini mengandung pengertian bahwa Ka’bah merupakan poros atau sentral alam semesta. Al-Qur’an selalu membandingkan antara langit dan bumi, meski bumi relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan kebesaran langit. Perbandingan ini dilakukan untuk membuktikan posisi istimewa bumi di alam semesta.

Allah SWT berfirman:

“Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya.” 

Keantaraan ini tidak akan ada kecuali jika bumi berposisi sebagai pusat atau sentral alam ini.

Dalil ketiga yang menegaskan fakta ini adalah firman Allah pada surah Ar-Rahman. Dia berfirman:

“Hai bangsa jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan.” (QS. Ar-Rahman: 33-34).

Diameter segala bentuk geometris adalah garis yang bertemu di antara dua ujungnya, melewati pusat (titik tengah). Penjuru langit tidak mungkin sama dengan penjuru bumi (sebagaimana penjelasan ayat di atas) kecuali jika bumi menjadi pusat atau titik tengah langit.

Dari keterangan terdahulu jelas sisi kemukjizatan hadis Nabi: “(Baitullah) Al-Haram adalah tanah suci poros tujuh langit dan tujuh bumi.”

Ketujuh bumi semuanya berada di bumi kita ini. Lapisan luar satu bagian bumi menutupi lapisan dalam bumi lain. Begitu juga tujuh langit semuanya menaungi kita pada tingkatan yang mengelilingi matahari. Bagian luar menutupi bagian dalam langit yang lain. Dan Ka’bah berada di tengah-tengah lapisan pertama bumi, yaitu daratan, sementara di bawahnya terdapat enam lapisan bumi yang lain. Dengan posisi demikian, Ka’bah berarti menjadi poros tujuh langit dan tujuh bumi.

Fakta ini tidak mungkin diketahui siapa pun, karena batas maksimum pengetahuan yang dapat dijangkau ilmu manusia hanyalah lapisan yang sangat kecil dari langit dunia yang menaungi kita dan dihiasi oleh Allah dengan bintang-bintang.

Bahkan lapisan kecil inipun terus-menerus mengalami perentangan/perluasan. Ketika manusia mengembangkan perangkat sarananya untuk berusaha mencapai ujung-ujungnya, selalu ditemukan bahwa ia telah melampauinya. Hal ini dikarenakan langit terus mengalami perluasan, sehingga betapapun berkembangnya teknologi dan kemampuan manusia, tetap saja manusia tidak akan mampu mencapainya karena cepatnya perluasan semesta.

Tantangan Al-Qur’an kepada semua manusia dan jin untuk menembus penjuru langit dan bumi tidak akan dapat mereka lakukan, karena tidak akan bisa keluar dari langit dan bumi kecuali dengan kekuatan Allah SWT.

Jika Al-Qur’an dan hadis tidak menjelaskan kepada kita bahwa ada 7 langit berlapis-lapis, 7 lapisan bumi yang berposisi pada sentral atau titik nolnya, dan Ka’bah merupakan titik tengah antara 7 langit dan 7 bumi, maka selamanya manusia tidak akan mempunyai media untuk mengetahui hal itu, meskipun penelitian-penelitian tentang struktur dalam bumi telah membuktikan akan adanya 7 lapisan yang berbeda, bagian luar ditutupi bagian dalam lapisan yang lain, begitu juga dengan langit, saling berhimpitan, khususnya penelitian astronomi modern yang telah membuktikan dengan sejumlah data matematis bahwa alam kita ini bergaris kurva (munhani).

Catatan ini cukup sebagai bukti bahwa 7 langit dan 7 bumi saling berhimpitan mengelilingi satu pusat yakni bumi, tepatnya di Ka’bah. Maka Ka’bah merupakan poros atau titik tengah langit dan bumi.

Dari sini bisa ditangkap sebuah kemukjizatan sain yang terdapat dalam hadis Nabi: (Baitullah) Al-Haram adalah tanah suci poros tujuh langit dan tujuh bumi. Juga dalam hadits: “Baitul Ma’mur itu berhadapan dengan Mekah.” Serta dalam deskripsi Rasul SAW yang dikutip oleh Al-Qurthubi dalam tafsirnya: “Ada Baitullah di langit ketujuh yang persis di atas Ka’bah bumi, sehingga jika jatuh tentu ia akan jatuh di atas Ka’bah.”

Pernyataan-pernyataan ini tidak mungkin muncul kecuali dari seorang Nabi yang menerima Wahyu dan mendapatkan ilmu pengetahuan dari Zat Pencipta tujuh langit dan tujuh bumi.

والله اعلم

Rujukan

Islampos/Pembuktian Sains dalam Sunnah oleh Dr. Zaghlul An-Najjar.

https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/08/17/m8vq7n-subhanallah-kabah-adalah-poros-alam-semesta-1

https://www.kaskus.co.id › thread
Pembuktian kebenaran Alquran dan Sains | KASKUS

https://m.facebook.com › … › Kebenaran Al-Quran Menurut Sains – Siaran | Facebook

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

%d blogger menyukai ini: