Kosmologi Islam (14)

ORANG MUKMIN LEBIH MULIA DARIPADA KA'BAH

Dalam Islam, Ka’bah merupakan kiblat seluruh kaum muslim dalam beribadah, tempat melaksanakan ibadah haji dan umrah, serta tempat pertama yang dijadikan sarana untuk beribadah kepada Allah. Selain itu, ia merupakan tempat yang diberkahi oleh Allah.

Hal ini sebagaimana firman Allah dalam surah Ali Imran ayat 97:

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.”

Karena itu, Ka’bah termasuk salah satu syi’ar Islam yang wajib dihormati dan diagungkan. Menghormati tempat yang dimuliakan oleh Allah termasuk bagian ketakwaan kepada-Nya. Dalam Al-Quran surat Al-Hajj ayat 32, Allah berfirman:

وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللهِ فَاِنّهَا مِنْ تَقْوَى القُلُوْبِ

Dan barang siapa mengagungkan syiar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.

Meski demikian, kehormatan dan keagungan Ka’bah ini masih kalah dibanding kehormatan dan keagungan seorang mukmin. Karena itu, jika Ka’bah wajib dihormati dan diagungkan, maka seorang mukmin lebih utama dan lebih wajib untuk dihormati.

Ini berdasarkan hadis riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Umar, dia pernah berkisah:

رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يطوف بالكعبة، ويقول: ما أطيبك، وأطيب ريحك! ما أعظمك، وأعظم حرمتك! والذي نفس محمد بيده، لحرمة المؤمن أعظم عند الله حرمة منك، ماله، ودمه.

Saya pernah melihat Rasulullah Saw thawaf di Ka’bah dan beliau berkata; ‘Alangkah wanginya kamu dan alangkah wanginya baumu! Alangkah agungnya kamu dan alangkah agungnya kehormatanmu! Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh kehormatan orang mukmin lebih agung di sisi Allah dibanding kehormatanmu, hartanya dan darahnya.”

Karena kehormatannya yang dimuliakan ini juga, tidak dibenarkan seseorang menakut-nakutinya dengan besi, pedang, tongkat atau benda-benda lainnya, sekalipun bercanda. Perhatikan sabda Rasulullah saw di bawah ini:

عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «مَنْ أَشَارَ إِلَى أَخِيهِ بِحَدِيدَةٍ، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَلْعَنُهُ، حَتَّى يَدَعَهُ وَإِنْ كَانَ أَخَاهُ لِأَبِيهِ وَأُمِّهِ» [رواه مسلم]

Artinya: “Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang menunjukkan besi kepada saudaranya (muslim), maka sesungguhnya malaikat akan melaknatnya, sampai ia menurunkan besinya itu. Sekalipun ia saudara kandungnya.”
(HR. Muslim).

Ketika menjelaskan hadits di atas, Imam Nawawi dalam Syarah nya mengatakan: “Hadits ini berisi penguatan akan kehormatan seorang muslim, sekaligus larangan keras mengancam dan menakut-nakutinya, juga melakukan perkara apa saja yang menyakitinya. Sabda Rasul yang berbunyi: “Sekalipun yang ditakut-takutinya saudara kandungnya”, adalah bentuk mubâlaghah dalam hal menjelaskan keumuman larangan di atas, yang mencakup siapa saja, baik yang tertuduh ataupun tidak, baik dalam bentuk canda dan main-main ataupun tidak. Karena, menakut-nakuti seorang muslim hukumnya haram dalam semua keadaan”.

Dalam hadits lain, Rasulullah saw kembali menegaskan—saking mulia dan istimewanya kehormatan seorang muslim—bahwa hancurnya dunia dan seisinya bagi Allah lebih mudah dan lebih ringan, dari pada terbunuhnya seorang orang muslim.

Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

Refleksi

Dalam hadits ini Nabi SAW membandingkan antara lenyapnya dunia dengan terbunuhnya seorang Muslim. Dengan kata lain, melalui hadits ini Rasul SAW mengajak umatnya untuk merenungkan hakikat keterkaitan Antar-CiptaanNya.

Inilah sejatinya “Kosmologi Islam” (dan sebenarnya seluruh pengetahuan dan bahkan seluruh kejadian dan fenomena); bahwa pemahaman akan ragam CiptaanNya harus diarahkan untuk menuntun umat manusia agar semakin mengagumi kesempurnaan CiptaanNya, sehingga akan membawanya untuk semakin mendekat kepada Allah Maha Pencipta.

Hadits di atas juga mengisyaratkan kemarahan Allah atas terbunuhnya seorang Muslim. Bila terbunuhnya seorang Muslim saja membuat Allah marah, bagaimana bila yang dibunuh itu adalah sebuah komunitas Muslim?

Banyak yang bertanya, kenapa sepertinya Allah “membiarkan” pembunuhan banyak komunitas Muslim di berbagai belahan dunia?

Di dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 42 secara tegas Allah menyatakan:

 

وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ

Dan janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.”

Selain itu, dengan itu Allah SWT sebenarnya menyediakan banyak sekali ladang amal shalih bagi umatnya, sambil menguji derajat keimanan seseorang lewat ujian yang ditimpakan kepada berbagai komunitas umat Islam.

Dalam sebuah hadits ditegaskan:

Dari Abu Sa’id Al Khudry -radhiyallahu ‘anhu- berkata, saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda, “Barang siapa di antara kamu yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan tangannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah (mengingkari) dengan lisannya, jika tidak mampu hendaklah ia merubah dengan hatinya, dan itulah keimanan yang paling lemah.” (HR. Muslim no. 49).

Hadits ini adalah hadits yang jami’ (mencakup banyak persoalan) dan sangat penting dalam syari’at Islam, bahkan sebagian ulama mengatakan, “Hadits ini pantas untuk menjadi separuh dari agama (syari’at), karena amalan-amalan syari’at terbagi dua: ma’ruf (kebaikan) yang wajib diperintahkan dan dilaksanakan, atau mungkar (kemungkaran) yang wajib diingkari, maka dari sisi ini, hadits tersebut adalah separuh dari syari’at.” (Lihat At Ta’yin fi Syarhil Arba’in, At Thufi, hal. 292).

Tingkatan pertama dan kedua wajib bagi setiap orang yang mampu melakukannya, sebagaimana yang dijelaskan oleh hadits di atas, dalam hal ini seseorang apabila melihat suatu kemungkaran maka ia wajib mengubahnya dengan tangan jika ia mampu melakukannya, seperti seorang penguasa terhadap bawahannya, kepala keluarga terhadap istri, anak dan keluarganya, dan mengingkari dengan tangan bukan berarti dengan senjata.

Adapun dengan lisan seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim, dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.

Adapun tingkatan terakhir (mengingkari dengan hati) artinya adalah membenci kemungkaran- kemungkaran tersebut. Ini adalah kewajiban yang tidak gugur atas setiap individu dalam setiap situasi dan kondisi. Oleh karena itu barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia akan binasa.

Imam Ibnu Rajab berkata -setelah menyebutkan hadits di atas dan hadits-hadits yang senada dengannya-, “Seluruh hadits ini menjelaskan wajibnya mengingkari kemungkaran sesuai dengan kemampuan, dan sesungguhnya mengingkari dengan hati sesuatu yang harus dilakukan, barang siapa yang tidak mengingkari dengan hatinya, maka ini pertanda hilangnya keimanan dari hatinya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/258).

Seseorang yang tidak mengingkari dengan hatinya maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan hidup, sebagaimana perkataan Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu tatkala ditanya, “Apakah kematian orang yang hidup?” Beliau menjawab:

من لم يعرف المعروف بقلبه وينكر المنكر بقلبه

Orang yang tidak mengenal kebaikan dengan hatinya dan tidak mengingkari kemungkaran dengan hatinya.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf beliau no. 37577).

Ya Allah, berikan kekuatan kepada Umat Islam di Uighur, Rohingnya, Suriah, Palestin dan lain-lain dalam menghadapi ujianMu. Saksikanlah Ya Allah, kami telah melakukannya sesuai kemampuan kami.

Rujukan: 

Menghormati Orang Mukmin Lebih Utama Dibanding Menghormati Ka’bah, Mengapa?

https://www.kompasiana.com/bara-biri-buru/seorang-muslim-lebih-mulia-dari-kabah-apalagi-kain-kiswah_54f82d69a33311cf5d8b4772

Kehormatannya Lebih Mulia dari Ka’bah

http://www.rpmtravel.co.id/kehormatan-seorang-muslim-lebih-mulia-sekalipun-dari-kabah.html

https://muslim.or.id/135-amar-maruf-nahi-mungkar-1.html 

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: