Kosmologi Islam (15)

RELATIVITAS RUANG-WAKTU

Teori relativitas mencakup teori relativitas umum dan relativitas khusus yang ditemukan oleh Albert Einstein. Kedua teori ini diciptakan untuk menjelaskan bahwa gelombang elektromagnetik tidak sesuai dengan teori gerakan Newton.

Gelombang elektromagnetik dibuktikan bergerak pada kecepatan yang konstan, tanpa dipengaruhi gerakan sang pengamat. Inti pemikiran dari kedua teori ini adalah bahwa dua pengamat yang bergerak relatif terhadap masing-masing akan mendapatkan waktu dan interval ruang yang berbeda untuk kejadian yang sama, tetapi isi hukum fisika akan terlihat sama oleh keduanya.

Relativitas Khusus

Relativitas khusus adalah teori mengenai struktur ruang-waktu. Diperkenalkan oleh Einstein melalui karyanya tahun 1905.

Teori relativitas khusus disandarkan pada postulat bahwa kecepatan cahaya akan sama terhadap semua pengamat yang berada dalam kerangka acuan lembam.

Postulat lain yang mendasari teori relativitas khusus adalah bahwa hukum fisika memiliki bentuk matematis yang sama dalam kerangka acuan lembam manapun.

Teori ini menyebabkan banyak kejutan, diantaranya adalah:

  1. Relativitas simultanitas, bahwa dua kejadian yang simultan untuk seorang pengamat, mungkin tidak simultan bagi pengamat lainnya jika ia bergerak relatif.
  2. Kecepatan maksimum terbatas: Tidak ada objek, pesan, atau garis medan dapat bergerak lebih cepat daripada kecepatan cahaya di ruang hampa.
  3. Efek gravitasi hanya dapat berpindah melalui ruang hampa pada kecepatan cahaya, tidak lebih cepat atau seketika.

Relativitas Umum

Relativitas umum adalah teori gravitasi yang dikembangkan oleh Einstein pada tahun 1907-1915.

Pengembangan relativitas umum dimulai dengan asas ekivalensi, saat keadaan gerak dipercepat dan diam pada sebuah medan gravitasi (contohnya, ketika berada pada permukaan bumi) yang identik secara fisik. Hasilnya adalah jatuh bebas adalah gerak inersia: objek yang sedang jatuh bebas akan jatuh. Karena itulah objek bergerak ketika tidak ada gaya yang diberikan pada benda tersebut, bukan akibat gaya gravitasi seperti pada kasus mekanika klasik.

Untuk menyelesaikan masalah ini, Einstein mengajukan bahwa ruang-waktu adalah kelengkungan. Tahun 1915, ia merancang persamaan medan Einstein yang menghubungkan kelengkungan ruang-waktu terhadap massa, energi, dan momentum.

Beberapa akibat relativitas umum:

  1. Jam akan bergerak semakin lambat pada lubang gravitasi yang makin dalam. Hal ini disebut dilatasi waktu gravitasi.
  2. Presesi orbit dengan cara yang tidak sama dengan teori gravitasi Newton. (Hal ini telah diamati pada orbit Merkurius dan binary pulsar).
  3. Sinar cahaya berbelok dengan adanya medan gravitasi.
  4. Massa berotasi “menyeret” sepanjang ruang-waktu di sekitarnya, fenomena yang dikenal dengan “frame-dragging”.
  5. Meluasnya alam semesta, dan bagian yang jauh bergerak dari kita lebih cepat dari kecepatan cahaya.

Ruang dan Waktu: Antara Ilusi dan Delusi

Bila setiap planet di jagat Tata Surya berpenghuni, jika antar planet bisa ditempuh secepat kilatan cahaya dan dapat terhubung secara real time, kita mesti bersiap dengan kekagetan luar biasa tentang usia sendiri. Makhluk antar planet akan berdebat tak berkesudahan tentang usia mereka sesungguhnya. Kendati mereka sama-sama menghitung waktu setahun dengan metode planet mengelilingi matahari.

Seseorang dari bumi yang berumur 25 tahun, jika ia tinggal di Pluto untuk waktu yang sama, maka ia adalah seorang bayi yang baru menginjak 1 bulan 6 hari. Satu tahun waktu Pluto lamanya sama dengan 248,2 tahun menurut ukuran waktu Bumi. Mari pergi ke Merkurius, maka ia segera menjadi seorang renta yang berusia 103 tahun lewat enam bulan. Satu tahun di sana hanya 88 hari.

Satu tahun di Mars lamanya sama dengan 687 hari atau 1,88 tahun ukuran Bumi. Satu tahun di Saturnus durasinya sama dengan 29 tahun 5 bulan. Venus membutuhkan waktu selama 243 hari sekali rotasi, sehingga satu hari di Venus lamanya adalah 243 hari ukuran waktu Bumi. Demikian seterusnya dan seterusnya. Belum lagi bila kita menghitungnya dari tata surya matahari (bintang) lain.

Bagaimana dengan galaksi lain: Andromeda, Black Eye, Centaurus dan seterusnya sampai miliaran yang di antaranya berjarak miliaran tahun cahaya pula.

Waktu adalah mufakat makhluk bumi sekaligus delusi bagi semesta. Waktu satu tahun di bumi – dengan mengambil kalender yang dirumus Dr. Aloysius Lilius dari Napoli misalnya – berada dalam rentang 365 hari. Sebagai waktu yang dibutuhkan oleh bumi mengeliling matahari. Hampir semua penanggalan lainnya kini merujuk kepada kalender Masehi, kecuali kalender Hijriah yang mengambil perhitungan bulan mengelilingi bumi. Dalam Hijriah umur 25 tahun akan dihitung 25 tahun lebih tujuh bulanan, karena satu tahun dengan kalender Hijriah lebih cepat 11 hari.

Jika manusia ingin bertamasya dari ujung ke ujung galaksi Bima Sakti dengan kecepatan cahaya maka akan dibutuhkan waktu 100 ribu tahun. Itu berarti membutuhkan seribu keturunan manusia yang rata-rata berumur seratus tahun, dalam perlawatan antar-generasi yang sambung menyambung. Itu barulah dalam takaran sebuah galaksi, sedangkan seluruh jagad raya ini dihuni oleh miliaran galaksi.

Sebagai mikro kosmos super halus yang tinggal di bumi, sangat tidak layak manusia menjadi penantang yang nyata atas Super Kosmos, Tuhannya. Namun dalam lintasan peradaban, beberapa orang sudah mengaku sebagai tuhan, beberapa lainnya hingga sekarang menyangkal Super Kosmos. Mereka tak percaya kepada eksistensi Tuhan sebagai pengatur semesta. Atheisme tanpa Tuhan, sedangkan Sekulerisme menepikan Tuhan. Hampir serupa.

Raja-raja dulu berkacak pinggang di antara jelata. Mereka merasa tak kan tergantikan dan tak ingin diganti. Berbagai jalan ditempuh untuk mempertahankan singgasana. Ia merasa titahnya selalu benar, jika terjadi disfungsi itu hanyalah bagian dari proses. Maka setiap upaya untuk melepas tahtanya, itu adalah kejahatan. Dia ingin biarlah umur yang menyudahinya, karena raja-raja mati, rakyat juga mati.

Soal umur, kita tak punya metode lain selain kalender Masehi agar semua penghuni bumi bersepakat dan tak kebingungan. Namun esensinya, umur adalah lintasan waktu untuk mencap, siapa yang lebih dahulu dan siapa yang belakangan. Bahwa malaikat-malaikat sangat sibuk, ada ribuan nyawa yang dijemput tiap hari dan ribuan lainnya diantar sebagai pemegang estafet pewaris bumi.

Dalam kitab sucinya, Tuhan berkata: Manusia tidak tinggal di bumi ini kecualinya hanya sebentar saja (QS. al-Mu’minun: 114). Firman ini akan menemukan banyak pembuktian. Misalnya di Pluto kita hanya hidup beberapa bulan saja, apalagi di sisi Tuhan sang pemilik waktu hakiki.

Ilmu pengetahuan mencoba menerobos ilusi waktu ini dengan salah satunya twin paradox. Ini adalah eksprimen bayangan dalam Teori Relativitas Albert Einstein. Bila dua orang kembar, salah satunya melakukan perjalanan dengan roket super cepat dan kemudian kembali ke bumi, maka ia akan mendapatkan saudara kembarnya lebih tua dari dirinya sendiri.

Kita hidup dalam kabut misteri dan mestinya tak berhenti menduga esensi kebenaran. Bahwa mufakat hanyalah mufakat, sebagai fakta rujukan, tapi itu bukan esensi. Ia bisa menjadi delusi bahkan ilusi. Ia bukanlah pijakan. Umur hanyalah angka-angka. Ulang tahun hanyalah basa basi. Tahun baru hanyalah waktu yang tepat untuk introspeksi dan restorasi. Ingatlah planet bumi sudah berumur 4,54 miliar tahun, bukan 2020 tahun seperti tertulis pada kalender.

Sumber

(https://id.wikipedia.org/wiki/Teori_relativitas)

https://goodweek.fun › followers
Beyond Blogging – Kompasiana.com

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: