Kosmologi Islam (19)

BAITUL MAKMUR

Bait al Makmur (Arab البيت المعمور, Al Baytul Ma’mur) adalah Ka’bah penduduk langit
sebagaimana Ka’bah di bumi sebagai pusat ibadah penduduk bumi.

Lafadz Baitul Makmur disebutkan Allah dalam Quran surat At-Thur.

“…dan demi Baitul Ma’mur, dan atap yang ditinggikan (langit), dan laut yang di dalam tanahnya ada api,” (At-Thur: 4-6).

Karena itulah, Allah jadikan tempat ini sebagai sumpah-Nya, sebagaimana disebutkan pada ayat di atas, “Demi Baitul Makmur ….” Umat Muslim meyakini bahwa makhluk yang Allah jadikan sebagai sumpah adalah makhluk yang mulia, yang menunjukkan keagungan Penciptanya. Hanya Allah saja yang boleh bersumpah atas makhluknya, sedangkan makhluk  seperti manusia, jin dan lain-lainnya, dilarang untuk bersumpah ditujukan selain kepada Allah. Jika ada yang melanggar dan ia telah mengetahui hukumnya, maka ia dihukumi dengan kekufuran dan kesyirikan.

Ketika peristiwa Isra Mi’raj, Nabi Muhammad telah melihat Baitul Makmur yang berada di langit ketujuh.

Baitul Makmur letaknya sejajar dengan Ka’bah penduduk bumi. Hadits lain menjelaskan lebih detail bahwa letaknya ada di langit ke-7, tepat di atas Kabah penduduk bumi.

Baitul Makmur adalah bangunan mulia yang berada di langit ketujuh. Di sanalah para Malaikat beribadah, sebagaimana manusia beribadah di sekitar Ka’bah di bumi.

Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalani Isra Mi’raj, sesampainya di langit ketujuh, beliau melihat Baitul Makmur. Ketika mengisahkan peristiwa Isra Mi’raj, beliau mengatakan:

Kami mendatangi langit ketujuh. Lalu aku mendatangi Nabi Ibrahim, aku memberi salam kepadanya dan belia menyambut, ‘Selamat datang putraku, sang Nabi.’ Lalu aku melihat Baitul Makmur. Akupun bertanya kepada Jibril dan Jibril menjawab: “Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari, tempat ini dikunjungi 70.000 Malaikat setiap hari untuk melakukan shalat di sana. Setelah mereka kaluar, mereka tidak akan kembali lagi ke tempat ini.”
(HR. Bukhari 3207 & Muslim 162).

At-Thabari menyebutkan riwayat yang mursal dari Qatadah (ulama tabi’in), beliau mengatakan: Sampai kepada kami informasi bahwa satu hari, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda di hadapan para sahabatnya, “Tahukah kalian, apa itu Baitul Makmur?” jawab beliau, “Allah dan Rasul-Nya yang paling tahu.

Lalu beliau menjelaskan: “Baitul Makmur adalah bangunan masjid di langit, tepat di bawahnya adalah Ka’bah. Andai masjid ini jatuh, dia akan jatuh di atas Ka’bah.
(Tafsir at-Thabari 22/456. Riwayat ini juga dikutip Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, 7/429).

Dalam Silsilah as-Shahihah dinyatakan, Kesimpulan keterangan bahwa tambahan riwayat ‘sejajar dengan Ka’bah’ statusnya shahih, dengan gabungan semua jalur periwayatannya.
(as-Silsilah as-Shahihah, 1/476).

Sejarah Baitul Makmur dan Ka’bah

Sejarah Baitul Makmur bermula saat Allah SWT hendak menciptakan khalifah di bumi. Saat itu keputusan Allah SWT ini dipertanyakan oleh para Malaikat. Seperti Kalam Allah dalam Surat Al-Baqarah Ayat 30: “Kenapa Engkau hendak menciptakan khalifah di bumi itu orang-orang yang akan berbuat kerusakan dan saling menumpahkan darah, sedangkan kami ini (para Malaikat) selalu bertasbih, bertauhid, dan mesucikan Engkau”, Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku lebih mengetahui terhadap apa yang kalian tidak ketahui.”

Jawaban Allah ini membuat para Malaikat merasa berdosa. Kemudian untuk menebus dosanya, para Malaikat ini berthawaf (berkeliling) Arsy sebanyak 7 kali.

Allah kemudian memerintahkan kepada para Malaikat itu untuk turun ke bumi dan membangun sebuah Baitullah (Ka’bah). Tujuannya agar jika Adam (manusia) berbuat dosa, dapat diampuni dengan berthawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak 7 kali.

Di sisi Ka’bah tersebut dibangun sebuah menara yang kira-kira tingginya adalah sepanjang 500 tahun perjalanan. Apabila datang hari Jum’at, Malaikat Jibril naik ke atas menara itu dan mengumandangkan adzan, Malaikat Israfil yang membacakan khutbah Jum’at, dan shalat Jum’at diimami oleh Malaikat Mikail, diikuti oleh para Malaikat yang lain.

Ketika banjir pada zaman Nabi Nuh AS, Allah mengangkat Baitullah ini ke atas langit.

Bangunan ini memiliki kedudukan yang sangat mulia. Maka nama ini tidak boleh digunakan untuk menamakan suatu rumah, atau tempat, atau bangunan apa pun. Sebagaimana kita tidak boleh memberi nama tempat di sekitar kita dengan nama Ka’bah atau Baitul Haram, atau nama-nama lainnya yang diagungkan.

Diriwayatkan bahwa Allah telah menjadikan Ka’bah didukung dengan empat tiang dari air, 2000 tahun sebelum Allah menciptakan dunia ini. Allah kemudian membentangkan bumi di bawah Ka’bah.

Sebelum Baitul Makmur dibuat, para malaikat thawaf mengelilingi Arasy pada waktu yang sangat lama. Allah memandang mereka, kemudian menurunkan rahmat kepada mereka.

Allah kemudian membangun sebuah rumah di bawah Arasy yang diberi nama Baitul Makmur. Dan Allah memerintahkan para malaikat agar thawaf di Baitul Makmur dan tinggalkan Arasy. Para malaikat telah melakukan tawaf di Baitul Makmur sehingga jumlah yang memasukinya siang dan malam sebanyak 70.000 malaikat. Mereka tidak kembali lagi buat selama-lama.

Kemudian Allah mengutus para malaikat turun ke bumi dan berkata kepada mereka, “Binalah sebuah rumah untukKu di bumi sepertinya”.

Allah memerintah seluruh makhluk di bumi supaya thawaf mengelilingi Ka’bah sebagaimana penghuni langit tawaf mengelilingi Baitul Makmur.

Diriwayatkan bahwa Allah telah mengutus Jibril kepada Nabi Adam dan Hawa untuk membangun satu rumah untukNya. Jibril mengungkapkan (rangka) kepada keduanya lalu Adam menggali tanah, sedangkan Hawa mengangkutnya sampai datang air dari bawah. Setelah itu Jibril berseru: “Cukuplah wahai Adam!”

Setelah Nabi Adam wafat, anak-anaknya membangun Ka’bah dengan menggunakan tanah dan batu. Diriwayatkan bahwa orang yang membangunnya adalah anak Nabi Adam yaitu Nabi Syith. Mereka selalu berdiam dan memakmurkan Baitullah.

Begitulah juga dengan orang-orang setelah mereka sampai tiba zaman Nuh AS.

Kemudian Allah mengutus Nabi Ibrahim untuk membangun kembali Ka’bah. Mematuhi perintah Allah itu, Nabi Ibrahim dan anaknya, Ismail membangun kembali Ka’bah di atas timbunan batu dan tanah liat dari bekas bangunan Ka’bah yang pernah dibuat oleh Nabi Syith yang runtuh akibat banjir dan topan di zaman Nuh. Konstruksi Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dibuat dari batu yang diambil dari tujuh bukit di sekitar kota Mekkah.

Bangunan Ka’bah kali ini memiliki dua sudut utama yaitu sudut Rukun Al-Hajarul Aswad dan Rukun Yamani, dan satu sudut berbentuk melengkung pada bagian yang berlawanan dengan kedua sudut. Fitur binaan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim: tingg 9 hasta. Dari Hajarul Aswad hingga ke penjuru sebelah Syam 32 hasta. Lebar di sebelah bagian saluran air mulai dari penjuru Syam sampai ke penjuru sebelah barat 22 hasta. Panjangnya mulai dari pojok sebelah barat sampai ke penjuru sebelah Yaman 31 hasta. Lebar dimulai dari pojok sebelah Yaman sampai ke Hajarul Aswad 20 hasta.

Setelah pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim, ia terus berdiri megah di bumi Allah dan tidak akan runtuh sehingga hari Kiamat. Namun usaha memperbaiki dan menyelenggarakan Ka’bah tetap berlanjut hingga sekarang.

 

Berikut adalah sejarah pembangunan Ka’bah:

Binaan pertama: Malaikat;

Binaan kedua: Nabi Adam;

Binaan ketiga: Nabi Syith;

Binaan keempat: Nabi Ibrahim;

Binaan kelima: Kaum Amaliqah;

Binaan keenam: Kaum Jurhum;

Binaan ketujuh: Qusai bin Kilab (Abad keempat Masihi);

Binaan kelapan: Abdul Mutalib;

Binaan kesembilan: Kaum Quraisy (Tahun 605 Masehi ketika Rasulullah berusia 35 tahun);

Binaan kesepuluh: Abdullah ibnu Zubair (Tahun 64 hijrah);

Binaan kesebelas: Hajjaj bin Yusuf al-Thaqafi (Tahun 74 hijrah/693 Masehi); dan

Binaan kedua belas: Sultan Murad Khan (Tahun 1040 hijrah/1630 masehi).

 

Rujukan

https://www.google.com/search?q=baitul+makmur&oq=baitul&aqs=chrome.2.69i59l3j69i57j69i60.3419j0j4&client=ms-android-om-lge&sourceid=chrome-mobile&ie=UTF-8

https://www.suratkabar.id/5689/muslim/masya-allah-ternyata-inilah-baitul-makmur-kiblat-para-malaikat-di-langit-ke-7-baca-dan-sebarkan

http://ag-zona.blogspot.com/2014/05/sejarah-terciptanya-kabah.html?m=1

http://yasirmaster.blogspot.com/2015/01/baitul-makmur-kabahnya-penghuni-langit.html?m=1

https://www.infoyunik.com/2015/08/inilah-baitul-makmur-kiblat-para.html

https://jateng.tribunnews.com/2019/04/02/nabi-muhammad-jumpai-baitul-makmur-saat-isra-miraj-masjid-mailaikat-di-langit-ketujuh

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

%d blogger menyukai ini: