Kosmologi Islam (49) Lanjutan …

Sedangkan Zubdatut Tafsir Min Fathil Qadir/Syaikh Dr. Muhammad Sulaiman Al Asyqar, mudarris tafsir Universitas Islam Madinah dalam kaitan ini mengatakan: Ada dua jenis manusia yang berhubungan dengan ayat ini:

Pertama, orang yang mengamalkan apa-apa yang diperintahkan oleh ayat, dan mereka adalah ahli ilmu, yaitu mereka dari kalangan ulama dan da’i-da’i penyebar da’wah; dan

Kedua, adalah orang-orang yang menutupi kebenaran dengan kebathilan, mereka tidak membedakan antara satu perkara dengan perkara lainnya padahal mereka mengerti tentang itu.

Kerancuan dalam membedakan yang benar dari yang salah adalah problem serius yang ditimbulkan oleh postmodernisme (yang sejak kelahirannya memang sudah membingungkan tokohnya sendiri, seperti sudah digambarkan pada seri 48).

Setidaknya ada tiga jenis kerancuan: Pertama, nilai instrumental berubah menjadi fundamental; nilai-nilai duniawi yang harusnya instrumental bagi kehidupan akhirat yang hakiki telah bergeser menjadi tujuan hidup; Kedua, tidak ada kebenaran mutlak dan semua kebenaran adalah relatif, termasuk kebenaran Agama, karena hanya merupakan instrumen untuk mencapai tujuan-tujuan duniawi. Ketiga, sebagai akibatnya, kebenaran mutlak menjadi relatif, dan yang relatif menjadi mutlak; disadari atau tidak, nilai-nilai duniawi yang seharusnya relatif telah menjadi mutlak. Maka hierarki kebenaran menjadi kacau.

Karena itulah kita dianjurkan untuk memperbanyak do’a ini, do’a yang disandarkan kepada Khalifah Umar bin Khattab:

“Ya Allah, tampakkanlah kepada kami yang haq itu benar-benar haq, dan berilah kami hidayah untuk mengikutinya. Dan tampakkanlah yang batil itu benar-benar batil, dan berilah kami keinginan untuk menjauhinya. Janganlah Engkau jadikan hal itu samar sehingga kami mengikuti hawa nafsu.”

Do’a ini disebutkan juga oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihyaa Ulumuddin melalui kitab Takhrij Hadits cetakan Daarul ‘Ishamah yang mengumpulkan tiga tulisan ulama yang mentakhrij hadits-hadits Ihyaa Ulumuddin, yaitu: al-Hafidz al-‘Iroqiy (w. 806 H), Imam as-Subki (w. 771 H) dan asy-Syaikh az-Zubaidiy (w. 1205 H). Imam Ghazali membawakannya dengan lafadz :

اللهم أرني الحق حقاً فأتبعه وأرني المنكر منكراً وارزقني اجتنابه

“Ya Allah, tampakkanlah kepadaku yang benar itu sebuah kebenaran dan berikan petunjuk kepadaku untuk mengikutinya. Tampakkanlah kepadaku yang munkar itu sebuah kemunkaran dan berikan petunjuk kepadaku agar menjauhinya.”

Diskusi

Ada banyak taksonomi yang menjelaskan hierarki nilai/kebenaran. Di antaranya:

Sidi Gazalba (1978) membagi tingkatan nilai mengikuti klasifikasi dalam hukum Islam (Fiqih), yaitu: paling baik (wajib), baik (sunnah), netral (mubah), buruk (makruh), dan paling buruk (haram).

Muhadjir (1996) membuat klasifikasi nilai menjadi: Nilai Ilahiyah dan Nilai Insaniyah. Nilai Ilahiyah terbagi dua, yaitu ubudiyah dan mu’amalah. Nilai Insaniyah terdiri atas nilai-nilai rasional, sosial, individual, biofisik, ekonomi, politik dan estetika. Nilai ubudiyah di urutan pertama, nilai muamalah di urutan kedua, dan semua nilai insaniyah di urutan ketiga.

Nilai Ilahiyah bersifat absolut, nilai insaniyah bersifat relatif.

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan kualitas, dan berguna bagi manusia. Sesuatu itu bernilai berarti sesuatu itu berharga atau berguna bagi kehidupan manusia. Nilai itu menunjuk pada arti atau makna yang dikaitkan dengan kegiatan, pengalaman atau hidup pada umumnya. Oleh karena itu nilai menyajikan pedoman untuk bertindak dan bersikap.

Nilai ditentukan oleh penilaian sehingga mengandung unsur subyektif dan obyektif. Sesuatu berharga bagi seseorang karena dianggap baik atau berguna baginya. Penilaian dapat salah, maka nilai semestinya berakar dalam sesuatu yang obyektif.

Siatem nilai dalam kehidupan manusia memiliki hierarki, yang terdiri atas: Nilai Dasar, Nilai Instrumental dan Nilai Praksis.

Nilai-nilai yang dikenal oleh manusia memiliki selalu memiliki nilai dasar berupa hakikat, esensi, intisari, atau makna yang dalam dari nilai-nilai tersebut. Nilai dasar ini bersifat universal karena menyangkut kenyataan objektif dari segala sesuatu. Misalnya, hakikat Tuhan, manusia, atau makhluk lainnya.

Nilai Instrumental ialah nilai yang menjadi pedoman pelaksanaan dari nilai dasar. Nilai instrumental merupakan formulasi serta parameter atau ukuran akan nilai dasar. Nilai instrumental dalam kehidupan manusia sehari-hari menjadi norma moral. Nilai instrumental dalam kaitan dengan suatu organisasi merupakan suatu arahan kebijakan atau strategi yang bersumber pada nilai dasar.

Adapun Nilai Praksis berfungsi menjabarkan secara lebih lanjut nilai instrumental dalam kehidupan yang lebih nyata. Nilai praksis merupakan pelaksanaan secara nyata dari nilai-nilai dasar dan nilai instrumental atau dapat dikatakan bahwa nilai praksis berfungsi sebagai penjabaran dari nilai dasar dan nilai instrumen. Dengan demikian, nilai praksis dijiwai oleh nilai-nilai dasar dan nilai instrumental.

Jadi, sistem nilai adalah khas manusia, karena hanya manusia yang mengenal dan menggunakan nilai untuk mengukur kadar dari segala sesuatu yang berhubungan dengan seluruh dimensi kehidupannya. Maka ketika sistem nilai itu diabaikan, sesungguhnya manusia telah kehilangan jati dirinya.

Inilah hakikat kenestapaan modernisme dilihat dari perspektif hierarki nilai. Situasi seperti itulah yang melahirkan berbagai paradoks dan anomali dalam berbagai aspek kehidupan.

والله اعلم

 

Rujukan

https://tafsirweb.com/334-surat-al-baqarah-ayat-42.html

https://sevensixchanel. wordpress.com/2019/03/01

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: