Kosmologi Islam (49)

"JANGAN KAMU CAMPUR-ADUKKAN ANTARA KEBENARAN DAN KEBATILAN…"

Dua kisah berikut, masih tentang hubungan antara guru dengan murid, tapi dalam paradigma yang berbeda dengan jenis hubungan guru-murid seperti dikemukakan pada Seri 48 yang lalu.

Dalam sebuah Majlis, Imam Malik menyampaikan: “Sesungguhnya rezeki itu datang tanpa sebab, cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah mengurus lainnya“.

Imam Syafi’i, sang murid berpendapat lain: “Seandainya seekor burung tidak keluar dari sangkarnya, bagaimana mungkin ia akan mendapatkan rezeki“.

Guru dan murid bersikukuh pada pendapatnya masing masing.

Suatu hari setelah meninggalkan pondok, Imam Syafi’i melihat serombongan orang tengah memanen anggur. Dia pun membantu mereka. Setelah pekerjaan selesai, Imam Syafi’i memperoleh imbalan beberapa ikat anggur sebagai balas jasa.

Imam Syafi’i girang, bukan karena mendapatkan anggur, tetapi karena pemberian itu telah menguatkan pendapatnya. Jika burung tak terbang dari sangkar, bagaimana ia akan mendapat rezeki?” Seandainya dia tak membantu memanen, niscaya tidak akan mendapatkan anggur.

Bergegas dia menjumpai Imam Malik, sang guru. Sambil menaruh seluruh anggur yang didapatnya, dia bercerita, sambil sedikit mengeraskan bagian kalimat “seandainya saya tidak keluar pondok dan membantu memanen, tentu saja anggur itu tidak akan pernah sampai di tangan saya.”

Mendengar itu Imam Malik tersenyum, seraya mengambil anggur dan mencicipinya. Imam Malik berucap pelan:
“Sehari ini aku memang tidak keluar pondok. Hanya mengambil tugas sebagai guru, dan sedikit berpikir alangkah nikmatnya kalau dalam hari yang panas ini aku bisa menikmati anggur. Tiba-tiba engkau datang sambil membawakan beberapa ikat anggur untukku. Bukankah ini juga bagian dari rezeki yang datang tanpa sebab. Cukup dengan tawakkal yang benar kepada Allah niscaya Allah akan berikan Rezeki. Lakukan yang menjadi bagianmu, selanjutnya biarkan Allah yang mengurus lainnya.”

Guru dan murid itu kemudian tertawa. Dua Imam madzab mengambil dua hukum yang berbeda dari hadits yang sama.

Begitulah ilmu dan akhlaq para Imam Madzab, berbeda pendapat tetapi masing masing menghargai pendapat yang lain. Hikmah yg mulai jarang kita jumpai saat ini.
(Dinukil dari A. Muthi dalam “Khazanah Islam”).

Siapa yang Benar?

Alkisah, hidup seorang guru yang sangat dihormati karena tegas dan jujur.

Suatu hari, dua muridnya menghadap guru. Mereka bertengkar hebat dan nyaris beradu fisik. Keduanya berdebat tentang hasil hitungan 3 x 7.

Murid pandai mengatakan hasilnya 21. Murid bodoh bersikukuh hasilnya 27.

Murid bodoh menantang murid pandai supaya gurunya menilai siapa yang benar di antara mereka.

Murid bodoh mengatakan: “Jika saya yang benar, maka kamu harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar, maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.”

Setelah keduanya sampai di tempat gurunya, murid bodoh itu berkata: “Katakan guru, mana yang benar?”

Ternyata guru memvonis cambuk 10 x pada murid yang pandai.

Murid pandai protes, tapi gurunya menjawab:

Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk ketidak-arifanmu karena berdebat dengan orang bodoh, yang tidak tahu kalo 3×7 adalah 21.”

Guru melanjutkan: “Lebih baik melihatmu dicambuk dan kemudian menjadi arif, daripada guru harus melihat satu nyawa terbuang sia-sia“.

Kedua kisah di atas dimaksudkan untuk memberikan ilustrasi tentang adanya dua jenis kebenaran, yaitu kebenaran mutlak dan kebenaran relatif.

Kisah pertama, tentang perbedaan pendapat dalam masalah furu‘(cabang, bukan ushul, pokok) antara guru dan murid. Keduanya berbeda dalam menafsirkan iman kepada taqdir. Perbedaan penafsiran yang muncul dalam penerapannya pada kehidupan sehari-hari ketika taqdir itu dikaitkan dengan ikhtiyar. Dua-duanya bisa benar dan bisa terjadi kapan, di mana dan kepada siapa saja. Perbedaan pendapat dalam masalah furu‘ seperti ini sifatnya relatif.

Sungguh indah teladan yang ditampilkan kedua Imam besar itu; dalam masalah furu’ mereka tidak perlu ngotot mempertahankan pendapatnya masing-masing.

Hindari berdebat dalam masalah furu’ dan/atau berdebat dengan orang yang tidak menguasai permasalahan, sebab bila mental masih lemah, hal itu hanya akan memancing emosi dan permusuhan. Ada saatnya kita diam untuk menghindari dan mengakhiri perdebatan yang tidak perlu.

Pesan moralnya

Ilustrasi kedua tentang kebenaran mutlak. Guru haruslah tegas bila menyangkut jenis kebenaran ini. Bagaimana seseorang akan menjadi guru yang baik bila tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah; bagaimana bisa menjadi da’i yang baik bila tidak bisa membedakan mana yang ma’ruf dan mana yang munkar.

ﻭَﻻَ ﺗَﻠْﺒِﺴُﻮﺍْ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﺑِﺎﻟْﺒَﺎﻃِﻞِ ﻭَﺗَﻜْﺘُﻤُﻮﺍْ ﺍﻟْﺤَﻖَّ ﻭَﺃَﻧﺘُﻢْ ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.” (Qs Al-Baqarah: 42).

Berikut pendapat para mufasir tentang apa yang dimaksud dengan “kebatilan” dalam kalimat “mencampur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan“:

Tafsir Al-Muyassar/ Kementerian Agama Saudi Arabia mengatakan:


Janganlah kamu mencampur kebenaran yang Aku turunkan kepada rasul-rasul-Ku- dengan kebohongan-kebohongan yang kamu buat-buat sendiri.”

Tafsir Al-Mukhtashar/Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid, Imam Masjidil Haram:

Janganlah kalian mencampuradukkan kebenaran dari Allah dengan kebatilan dari kalian.”

 

Dari kedua mufassir ini ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan “kebatilan” adalah kebohongan yang dibuat-buatnya sendiri. Maksudnya adalah mencampuradukkan kebenaran dengan kebohongan yang dibuatnya sendiri.

Sedangkan yang dimaksud dengan “menyembunyikan kebenaran…”, Imam Qotadah berkata: Yang termasuk menyembunyikan kebenaran bisa jadi karena tujuan duniawi yang diinginkan. Atau yang kedua karena jika ilmu itu disampaikan akan membahayakan kedudukannya. Atau yang ketiga, takut kehilangan dunianya.

Bersambung…

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: