Kosmologi Islam (56) Lanjutan 2

Kesimpulan

Manusia sebagai makhluk Allah mempunyai dua tugas utama, yaitu: (1)  sebagai ’Abdullah, yakni hamba Allah yang harus tunduk dan taat terhadap segala aturan dan KehendakNya serta mengabdi hanya kepadaNya; dan (2) sebagai Khalifah Allah di muka bumi, yang meliputi pelaksanaan tugas kekhalifahan terhadap diri sendiri, dalam keluarga/rumah tangga, dalam masyarakat, dan tugas kekhalifahan terhadap alam.

Diskusi

Dari empat Mufassir yang dikutip terdahulu dalam menafsirkan kata “amanah” sebagaimana disebutkan dalam Surat al-Ahzab ayat 72 di atas, benang merahnya adalah al-‘adalah, menegakkan keadilan. Jadi inti “amanah” yang Allah bebankan kepada manusia adalah menegakkan keadilan.

Keadilan kebalikannya adalah kedzaliman. Artinya semakin keadilan itu ditegakkan, maka kedzaliman akan semakin menjauh. Sebaliknya, semakin keadilan dibaikan, maka kedzaliman akan semakin merajalela.

Dalam kaitan ini, Husein Muhammad, Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, Cirebon, menulis sebuah artikel menarik berjudul “Kedzaliman Itulah yang Menguancurkan”, 2 Mei 2019, yang bertolak dari Surat Hud Ayat 117 berikut:

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ

“Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Imam Fakhrudin ar-Razi menafsirkan ayat ini tersebut sebagai berikut: Arti kata “al-Zhulm” dalam ayat ini adalah “al-Syirk”, menyekutukan Tuhan. Lalu ia mengatakan bahwa makna ayat itu ialah bahwa Allah tidak akan menghancurkan suatu kaum semata-mata akibat/karena mereka musyrik, sepanjang mereka saling berbuat kebaikan dalam relasi sosialnya.

Tegasnya murka Tuhan tidak turun/ditimpakan kepada suatu komunitas manusia hanya karena mereka menyekutukan Tuhan dan mengingkari Tuhan. Tetapi murka/azab Tuhan akan turun jika mereka saling menyakiti dan berbuat dzalim (menaniaya/tidak berbuat adil).

Atas dasar ini para ahli hukum Islam (fuqaha) mengatakan dalam kaedahnya: hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban kepada Allah itu dimudahkan dan diringankan, sedangkan hal-hal yang berhubungan dengan kewajiban antar manusia itu ketat.

Jadi, Allah tidak akan menimpakan siksa-Nya kepada komunitas manusia semata-mata akibat/karena mereka musyrik, selama mereka saling berbuat baik dan bertindak jujur/benar. Ini adalah pandangan Ahlussunnah.

Buktinya, Tuhan menurunkan siksa kepada kaum Nabi Nuh, Nabi Hud, nabi Shaleh, nabi Luth dan nabi Syu’aib, karena sebagaimana disampaikan oleh Allah, mereka saling nenyakiti dan berbuat zalim.

Sementara itu Imam al-Ghazali (1058-1111), mengatakan dalam bukunya: al-Tibr al-Masbuk fî Nashihah al-Muluk:

“Sejarah dunia telah mencatat bahwa bangsa Majusi (yang dalam praktik ritualnya menghadap api) pernah menguasai dunia, empat ribu tahun lamanya. “Mengapa bisa begitu lama bertahan?” Al-Ghazali menjawab sendiri: “Karena bangsa itu diperintah dan dipimpin oleh tangan-tangan yang adil dan bekerja untuk kesejahteraan rakyatnya.

Ada fakta menarik yang memperlihatkan kepada kita tentang negara paling sejahtera dan paling aman di dunia.

Legatum Institute, sebuah lembaga riset yang berbasis di London, pada Kamis (3/11/2016), merilis indeks kemakmuran global tahunan ke-10. Hasilnya ada 10 negara paling makmur/sejahtera di dunia, yaitu: Selandia Baru, Norwegia, Finlandia, Swis, Kanada, Australia, Belanda, Swedia, Denmark dan Inggris.

Sementara itu, negara paling aman di dunia adalah: Islandia, Denmark, Austria, New Zaeland, Swis, Finlandia, Kanada, Jepang, Australia dan Republik Ceko. (Global Peace Index 2015, Institute for Economic and Peace).

Refleksi

Bila kita amati jatuh-bangunnya sebuah kekuasaan sepanjang sejarah peradaban umat manusia, dinamika suksesi setiap kekuasaan tudak pernah lepas dari (dikendalikan oleh) sebuah Sunnatullah atau hukum besi sejarah, yaitu:

“Adakalanya Allah gunakan kedzaliman seorang penguasa untuk menggulingkan kedzaliman penguasa lainnya. Tetapi ketika sudah tidak ada lagi penguasa yang lebih dzalim, maka Allah gunakan KekuasanNya untuk menggulingkan kedzaliman sebuah kekuasaan.”

Dengan kata lain, ketika seluruh jalan keadilan manusia sudah tertutup, maka saatnya Yang Maha Adil Turun Tangan, dan Dia akan menemukan jalannya sendiri untuk menegakkan keadilan. Karena ketidak-adilan akan melahirkan ketimpangan dan ketidak-seimbangan, maka Sunnatullah sejarah akan menempuh jalannya sendiri untuk kembali menemukan keseimbangannya.

Tidak pernah ada seseorang atau sebuah kekuasaan pun yang bisa berkelit dari taqdir sejarah ini. Hal ini karena kedzaliman terang-terangan menantang keadilan, yang adalah janji primordial manusia sejak pertama diciptakan.

Karena itu, saatnya kita harus bertanya dan merenungkan jawabannya secara sungguh-sungguh, di zaman seperti apakah alam dunia saat ini kita berada, apakah semakin mendekat atau semakin menjauh dari keadilan?

والله اعلم

Sumber

(https://www.annursolo.com/amanah-allah-kepada-manusia-tafsir-al-ahzab-72-73/)

(https://alif.id/read/husein-muhammad/kezaliman-itulah-yang-menghancurkan-b218384p/)

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.