Kosmologi Islam (7)

TUJUH LAPIS LANGIT DALAM AL-QUR'AN

Kosa kata langit selalu muncul di dalam Kitab-kitab Suci. Apa arti kata langit dalam lintasan sejarah Kitab Suci? Apa hikmah di balik pengungkapan langit berkali-kali bagi manusia dan apa makna kata tujuh langit di dalam Kitab Suci?

Di dalam Al-Qur’an, kata langit, khususnya “tujuh langit (sab’a samawat) juga disebutkan berulang kali, terkadang digunakan dalam bentuk singular (sama’) dan kadang dalam bentuk plural (samawat). Di antara ayat-ayat tersebut ialah:

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. al-Baqarah/2: 29).

“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (Q.S. al-Mulk/67: 3).

“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Q.S. al-Isra/17: 44).

Pemaknaan angka tujuh di dalam berbagai kitab tafsir berbeda satu sama lain. Ada yang mengartikan kata tujuh sebagai simbol jumlah yang tak terbatas, artinya bukan tiga sebagai standard simbol jamak di dalam hitungan Arab. Dalam tradisi Yunani dan Romawi kuno angka tujuh dimaknai sebagai lambang kemajemukan. Angka tujuh langit merujuk kepada ketiadaan batas atau jumlah lapis langit.

Pengertian langit itu sendiri di kalangan para ulama terjadi perbedaan pendapat. Umumnya ulama di masa-masa awal Islam mengesankan langit sebagai bola raksasa yang melingkupi bintang-bintang dan planet yang seolah menempel pada dindingnya. Ada juga ulama yang mengesankan langit seperti atap raksasa yang berada di atas bumi. Yang lainnya mereka menghubungkan dengan makna-makna mistis angka tujuh di dalam kajian Makrokosmos.

Prof. Achmad Baiquni mengartikan langit sebagai ruang alam atau ruang waktu di semesta tempat planet, bintang, dan benda-benda langit lainnya bergerak. Namun Prof Baiquni juga tidak memberikan komentar terperinci tentang makna tujuh langit. Ia hanya menyinggung sedikit bahwa tujuh langit yang disinggung di dalam Al-Quran ialah tujuh ruang alam. Ketujuh ruang alam ini boleh jadi tidak saling berhubungan satu dengan lainnya.

Para ilmuan belum bisa memastikan di mana letak tujuh langit itu, apakah tujuh langit dalam arti ruang alam atau tujuh bumi dalam arti ruang materi, hingga saat ini masih merupakan misteri, yang mungkin pada saatnya akan tersingkap juga.

Sampai hari ini, menurut penelitian penulis, belum ada satu pun yang memberikan penjelasan kongkrit dan didukung oleh dalil-dalil lain tentang makna “sab’a samawat” dalam ayat di atas.

Termasuk Tafsir Sains (Tafsir al-Ayat al-Kauniyyah fi al-Quran al-Karim) karya Dr. Zaglul al-Najjar, juga tidak membahas kata tujuh langit ini. Dalam kitab Tafsir al-Kabir, karya Imam Fakhr al-Razy, yang biasanya rajin dan secara konsisten mengemukakan makna tersirat sejumlah konsep yang tidak terurai jelas di dala kitab-kitab Tafsir.

 

Rujukan

https://m.inilah.com › read › Makna Tujuh Langit dalam Al Quran – mozaik islam www.inilah.com

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

%d blogger menyukai ini: