Kosmologi Islam (8)

ALAM SEMESTA TERUS MELUAS

Dalam Al-Qur’an, yang diturunkan 14 abad silam, di saat ilmu astronomi masih terbelakang, mengembangnya alam semesta digambarkan sebagai berikut:

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya.” (Al Qur’an, 51: 47).

Kata “langit”, digunakan di banyak tempat dalam Al-Qur’an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Di sini sekali lagi, kata tersebut digunakan dengan arti ini. Dengan kata lain, dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa alam semesta “mengalami perluasan atau mengembang”. Dan inilah yang kesimpulan yang dicapai ilmu pengetahuan masa kini.

Hingga awal abad ke-20, satu-satunya pandangan yang umumnya diyakini di dunia ilmu pengetahuan adalah bahwa alam semesta bersifat tetap dan telah ada sejak dahulu kala tanpa permulaan.

Namun penelitian, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan teknologi modern, mengungkapkan bahwa alam semesta sesungguhnya memiliki permulaan, dan ia terus-menerus “mengembang”.

Pada awal abad ke-20, fisikawan Rusia, Alexander Friedmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, secara teoritis menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang. Fakta ini dibuktikan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Ketika mengamati langit dengan teleskop, Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus bergerak saling menjauhi. Sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak menjauhi satu sama lain. Berarti bahwa alam semesta tersebut terus-menerus “mengembang”.

Umur, Dimensi dan Kecepatan Mengembang Alam Semesta

Selama berabad-abad, peningkatan pemikiran manusia yang ditopang oleh penemuan teori gravitasi Newton membuat teori heliosentris Copernicus mengenai Tata Surya mulai diyakini. Perbaikan lebih lanjut dalam astronomi menyebabkan kesadaran bahwa tata surya tertanam dalam galaksi yang terdiri dari jutaan bintang, Bima Sakti, dan bahwa ada galaksi lain di luar itu, sejauh instrumen astronomi dapat mencapainya.

Studi yang meneliti distribusi galaksi-galaksi dan garis spektrum telah mengungkapkan banyak hal tentang kosmologi modern. Penemuan pergeseran gelombang merah dan radiasi gelombang mikro, latar belakang kosmik, mengungkapkan bahwa alam semesta berkembang dan tampaknya memiliki awal dan akhir.

Menurut model ilmiah yang berlaku di Alam Semesta, dikenal sebagai Big Bang, alam semesta berkembang dari sebuah fase yang sangat panas dan padat yang disebut zaman Planck, di mana semua materi dan energi alam semesta terkonsentrasi. Sejak zaman Planck, Semesta telah berkembang sampai pada bentuknya saat ini, mungkin dengan jangka waktu singkat (kurang dari 10-32 detik) inflasi kosmik.

Arus interpretasi pengamatan astronomi menunjukkan bahwa umur alam semesta adalah 13,73 (± 0,12) miliar tahun, dan bahwa diameter alam semesta yang teramati paling tidak 93 milyar tahun cahaya, atau 8,80 × 1026 meter.

Semesta adalah ruangan yang sangat besar dan mungkin tak terbatas dalam volume, hal yang dapat diamati adalah tersebarnya ruang pada ukuran setidaknya 93 miliar tahun cahaya. Sebagai perbandingan, diameter sebuah galaksi khas hanya 30.000 tahun cahaya, dan jarak khas antara dua galaksi tetangga hanya 3 juta tahun cahaya.

Sebagai contoh, panjang diameter Galaksi Bima Sakti kira-kira 100.000 tahun cahaya, dan galaksi saudara terdekat kita, galaksi andromeda, terletak sekitar 2,5 juta tahun cahaya. Mungkin ada lebih dari 100 miliar (1011) galaksi di alam semesta teramati.

Galaksi kerdil umumnya memiliki sedikitnya sepuluh juta (107) raksasa bintang sampai dengan satu triliun (1012) bintang-bintang, semua mengorbit pada masa pusat galaksi.

Semesta sudah tua dan terus berkembang. Perkiraan paling tepat dari usia alam semesta adalah 13,73 ± 0.12 miliar tahun, berdasarkan pengamatan radiasi latar belakang gelombang mikro kosmik. Independen perkiraan, berdasarkan pengukuran radioaktif dating, setuju, walaupun ada variasi mulai dari 11-20 miliar tahun sampai 13-15 miliar tahun.

Menurut relativitas umum, ruang dapat memperluas lebih cepat dari kecepatan cahaya, meskipun kita dapat melihat hanya sebagian kecil dari alam semesta, karena pembatasan yang diberlakukan oleh hukum kecepatan cahaya itu sendiri. Namun demikian, pengetahuan kita masih belum bisa memastikan apakah ukuran Semesta terbatas atau tak terbatas.

Sifat energi gelap dan materi gelap belum diketahui. Dark gravitates sebagai hal biasa, sehingga bekerja untuk memperlambat ekspansi dari alam semesta; Sebaliknya, energi gelap mempercepat ekspansi.

Pengamatan terbaru menunjukkan bahwa ekspansi semesta ini telah mempercepat energi gelap, dan bahwa sebagian besar masalah di Semesta mungkin dalam bentuk yang tidak dapat dideteksi oleh instrumen ini, dan karenanya tidak diperhitungkan dalam model alam semesta sekarang ini; ini yang disebut materi gelap. Kekurangakuratan pengamatan saat ini telah menghambat prediksi tentang nasib akhir alam semesta.

Pengamatan yang dilakukan di tahun-tahun berikutnya memperkokoh fakta bahwa alam semesta terus mengembang dengan kecepatan cahaya. Kenyataan meluasnya alam semesta ini diterangkan dalam Al-Qur’an pada saat belum ada seorang pun yang mengetahuinya. Ini dikarenakan Al-Qur’an adalah Firman Allah, Sang Pencipta, dan Pengatur keseluruhan alam semesta.

Proses pengembangan alam semesta tersebut masih berlangsung hingga saat ini, di mana setiap galaksi satu dan galaksi lainnya saling berjauhan setiap saat. Proses ini akan terus berlangsung hingga akhir zaman, di mana alam semesta sudah tidak memiliki energi yang menopangnya lagi, ketika alam ini sudah mencapai batas akhir dari proses pengembangannya, hingga akhirnya alam semesta ini runtuh.

Tidak terbayangkan kerusakan seperti apa yang akan terjadi ketika bumi, planet yang menjadi rumah bagi manusia, tertimpa reruntuhan alam semesta yang tak terhingga besarnya. Itu sebabnya banyak sekali ayat al-Qur’an, bahkan banyak nama surat dalam al-Qur’an, yang menggambarkan dahsyatnya Hari Kiamat.

PENULIS

Maman Supriatman, lahir di Kawali, Ciamis pada 25 Agustus 1958. Dosen Filsafat dan Manajemen Pendidikan pada Jurusan Manajemen Pendidikan Islam (2016-sekarang; sebelumnya dosen pada Jurusan PAI sejak 1983-2016) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Terima Kasih Untuk Berbagi Informasi, Silakan Klik Tombol di Bawah !
  • 14
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
    14
    Shares