Kosmologi Islam (84)

TANDA-TANDA KIAMAT

Berdasarkan keterangan al-Qur’an dan Hadits, juga ditinjau dari sisi sains, Hari Kiamat sudah pasti akan terjadi. Hanya saja, tidak ada yang mengetahui kapan Kiamat itu terjadi.

Allah SWT Berfirman:

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu, kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad): ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(QS. Al-A’rāf: 187).

Dalam buku “Kiamat dalam Perspektif Alquran dan Sains”, dijelaskan bahwa segala peristiwa pasti diawali dengan munculnya tanda-tanda.

Sebelum gunung berapi meletus misalnya, di sekitar kawasan tersebut biasanya terjadi lebih dulu hal-hal yang merupakan isyaratnya, seperti: udara semakin panas, dedaunan mengering, hewan-hewan turun gunung, munculnya semburan asap dari kawah, dan sebagainya.

Bila peristiwa seperti gunung api meletus itu memiliki tanda-tanda, maka kiamat yang merupakan peristiwa besar juga demikian.

Tentang tanda fisik Kiamat, bahasan tentang kerusakan di darat dan laut adalah topik yang tidak bisa dilewatkan. Secara kasat mata dapat dirasakan bahwa bumi semakin rusak. Hal ini bisa dilihat dari hutan yang semakin gundul dan mengakibatkan tanah longsor dan banjir.

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
(QS. Al-Rum: 41).

Dalam buku Tafsir Ilmi yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI dengan LIPI itu, dijelaskan mengenai keadaan bumi menjelang Kiamat.

Ada tanda-tanda yang bisa diamati oleh mata manusia sebelum terjadinya Kiamat. Ilmuwan bahkan telah mengemukakan skema-skema yang akan terjadi, seperti bumi bertabrakan dengan planet lain, atau hantaman asteroid.

Skema lain adalah akan terjadi kekacauan besar, disebabkan oleh guncangan dahsyat yang akan terjadi di bumi.

Selain terjadinya guncangan di seluruh penjuru numi, salah satu tanda kiamat lainnya adalah terbitnya matahari dari arah barat. Para ilmuwan menyadari bahwa ada penurunan kecepatan rotasi Bumi pada porosnya.

Proyeksi grafik masa depan dari proses penurunan kecepatan rotasi bumi, mengungkapkan bahwa proses ini akan memaksa bumi berputar pada arah yang berlawanan dari timur ke barat.

Rasulullah bersabda: “Tidak akan terjadi Kiamat sehingga matahari terbit dari sebelah barat. Jika ia telah terbit dari barat, lalu manusia menyaksikannya, maka semua orang akan beriman, ketika itu tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.”

Tanda-tanda Kiamat Shugra

Tanda-tanda Kiamat Shugra/Kecil banyak sekali, ada yang menyebut hingga 100 tanda. Di antaranya yang penting adalah:

Ajaran Agama Islam kurang diperhatikan bahkan ditinggalkan oleh umat Islam sendiri; jumlah ulama yang sesungguhnya semakin sedikit, sebaliknya banyak orang bodoh yang mengaku ulama yang menyesatkan umat Islam serta menyebabkan perpecahan di kalangan umat Islam.

Perzinahan dilakukan secara terang-terangan dan sudah menjadi suatu hal yang biasa di masyarakat; meminum khamr (mabuk-mabukan) banyak dilakukan dan seolah bukan perbuatan yang diharamkan.

Jumlah wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria; para wanita sudah tidak malu untuk berpakaian setengah telanjang (berpakaian tipis dan/atau membentuk tubuh yang tidak memenuhi syariat; banyak wanita yang berpenampilan seperti pria dan sebaliknya, banyak pria yang berpenampilan seperti wanita.

Manusia berlomba untuk memperkaya diri dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, menipu, dan merampok; para orang tua tidak diperlakukan secara baik, bahkan seakan-akan dijadikan budak atau pembantu yang diperilakukan semena-mena oleh anak-anaknya.

Semakin banyak fitnah yang menimpa umat Islam; semakin sering terjadi bencana alam, serta meningkatnya kejahatan seperti pembunuhan dan peperangan; maraknya perceraian; bermewah-mewah dalam membangun masjid, sementara jamaahnya sedikit.

Dicabutnya ilmu pengetahuan; semakin tersebarnya kebodohan dalam kehidupan masyarakat; terjadinya kekacauan di mana-mana akibat meluasnya kebodohan dalam kehidupan masyarakat; masyarakat berlomba-lomba meninggikan bangunan.

Banyaknya orang yang menuntut ilmu karena mengejar harta, pangkat, dan kedudukan; maraknya tindakan korupsi; semakin banyak anak yang lahir dari hubungan di luar nikah.

Versi lain menyebutkan ciri-ciri kiamat kecil sebagai berikut:

Diutusnya Rasulullah SAW; amanat disia-siakan; budak wanita melahirkan majikannya; penggembala kambing berlomba meninggikan bangunan; munculnya gunung emas di Sungai Eufrat; wafatnya Rasulullah SAW. 

Ditaklukkannya Baitul Maqdis; munculnya wabah penyakit; semakin banyak kematian mendadak; melimpahnya harta; timbulnya fitnah, sehingga setiap rumah pasti dimasuki fitnah.

Terjadinya perdamaian antara kaum muslimin dengan bani Asfar (bangsa Romawi); banyaknya pembuhunan; munculnya kaum Khawarij baru; para penegak hukum yang pergi dengan kemurkaan Allah dan kembali dengan kemurkaan Allah; munculnya banyak fitnah; diangkatnya/hilangnya ilmu; dan tersebarnya kebodohan.

Merebaknya minuman khamar; merajalelanya perzinaan; sedikitnya laki-laki dan banyaknya wanita; bermegah-megahan dalam membangun masjid; riba merajalela; musik dan penyanyi merajalela; banyaknya perbuatan keji; banyaknya terjadi pemutusan silaturahmi; jeleknya hubungan dengan tetangga.

Jazirah Arab menjadi padang rumput dan banyak sungai; banyak saksi palsu dan menyembunyikan kesaksian yang benar; bulan sabit kelihatan besar; banyak wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang; mengucapkan salam hanya kepada orang yang dikenal saja.

Orang yang hina mendapat kedudukan terhormat: banyak orang shaleh meninggal dunia; banyaknya pendusta; dan munculnya orang-orang yang mewarnai rambut.

Beberapa dalil mengenai Kiamat Shugra di antaranya:  

QS: Al-A’raaf: 50-51; At-Taubah: 101; Al-An’aam: 94; Ibrahim: 27.

Tanda-tanda Kiamat Kubra

  1. Lengkapnya seluruh ciri Kiamat Sugra;
  2. Waktu yang dilalui manusia semakin cepat, setahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari;
  3. Kekeringan parah selama tiga tahun;
  4. Munculnya Ad–Dukhan;
  5. Keluarnya Dajjal;
  6. Munculnya Imam Mahdi sebagai penegak Khilafah di Muka Bumi;
  7. Turunya Nabi Isa A.s untuk membunuh Dajjal;
  8. Keluarnya Ya’juj dan Ma’juj;
  9. Keluarnya hewan melata yang mampu berbicara dan menandai orang kafir dan orang beriman;
  10. Terbitnya matahari dari sebelah barat;
  11. Hilangnya tulisan dan ingatan manusia terhadap Al–Qur’an;
  12. Dimatikannya seluruh orang beriman secara serentak dengan angin yang lembut;
  13. Ditiupnya Sangkakala;
  14. Terjadinya gempa yang sangat dahsyat; dan
  15. Munculnya api dari Yaman untuk mematikan seluruh orang yang kafir.

Dalam versi lain, ciri-ciri Kiamat Kubra/Besar itu adalah:

Munculnya Dajjal; munculnya Imam Mahdi dan turunnya Nabi Isa AS; keluarnya Yakjuj dan Makjuj; Islam kembali menjadi khilafah di muka bumi; matahari terbit dari arah barat; muncul binatang raksasa dari perut bumi; wafatnya seluruh umat Islam di dunia; tenggelam dan hancurnya bumi di sebelah timur; tenggelam dan hancurnya bumi di sebelah barat; tiupan Sangkalkala dan munculnya api yang akan menggiring manusia berkumpul di Syam.

Perbedaan antara Kiamat Shugra dan Kiamat Kubra ialah, bahwa Kiamat Shugra bersifat lokal, kejadian-kejadiannya hanya menimpa di wilayah tertentu. Kiamat Shugra akan berlangsung sangat lama.

Sedangkan Kiamat Kubra merupakan Kiamat yang bersifat besar dan berskala internasional, kejadian-kejadiannya menimpa seluruh wilayah di muka bumi. Kiamat Kubra akan berlangsung singkat dan akan mengakhiri seluruh kehidupan di dunia ini.

Pendapat Imam al-Qurthubi

Menurut Imam Qurthubi, para ulama berbeda pendapat tentang urutan terjadinya tanda-tanda Kiamat, terutama Kiamat Besar. Imam Al-Qurṭūbī mengatakan, tanda-tanda Kiamat Besar yang disebutkan secara bersamaan dalam banyak Hadits, tidaklah berurutan.

Salah satu Hadits Shahih yang berkaitan dengan Kiamat adalah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, yang juga diriwayatkan oleh beberapa Perawi Hadits, serta diakui oleh para Ulama, adalah Hadits berikut:

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ فَقَالَ مَا تَذَاكَرُونَ قَالُوا نَذْكُرُ السَّاعَةَ قَالَ إِنَّهَا لَنْ تَقُومَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُولَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَأَجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَثَلَاثَةَ خُسُوفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ

“Dari Hudzaifah bin Asid Al-Ghifari berkata, Rasulullah SAW menghampiri kami saat kami tengah membicarakan sesuatu. Ia bertanya: ‘Apa yang kalian bicarakan?’ Kami menjawab: ‘Kami membicarakan kiamat.’ Ia bersabda: ‘Kiamat tidaklah terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya.’ Rasulullah menyebut: kabut, dajjal, binatang (ad-dābbah), terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam AS, Ya’juj dan Ma’juj, tiga gempa bumi besar (di timur, di barat dan di Jazirah Arab), dan yang terakhir adalah api muncul dari Yaman yang menggiring manusia menuju tempat perkumpulan mereka.” (Lihat Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim An-Naisaburi, Al-Jāmi’us Ṣaḥīḥ, Beirut, Dārul Afaq Al-Jadidah: tanpa tahun, Juz VIII, halaman 178).

Tanda-tanda kiamat dalam Hadits ini disebut sebagai tanda-tanda Kiamat Kubra (Hari Akhir). Ada sepuluh tanda kiamat yang disebutkan Rasul dalam hadits ini. Namun yang terdapat dalam hadits tersebut hanya ada delapan.

Al-Qurthubi mengatakan bahwa ada hadits lain yang menyebutkan tanda-tanda tersebut secara berurutan, yakni hadits Muslim dari Hudzaifah dalam riwayat yang berbeda, bahwa tanda yang pertama kali muncul adalah tiga gempa bumi.

Menurut Al-Qurthubi, tanda-tanda ini sudah pernah terjadi di masa Rasul SAW. Sedangkan tanda-tanda setelahnya masih banyak diperdebatkan urutannya. (Lihat Muhammad Syamsul Haq Abadi, ʽAunul Maʽbūd Syarh Abū Dawud, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 1415 H, juz XI, halaman 290-291).

Oleh karena itu, kesimpulan dari kajian Hadits-hadits terkait tanda-tanda Kiamat ini, adalah tanda-tanda Kiamat yang disebutkan dalam Jadits sifatnya merupakan prediksi Rasul SAW.

Adapun tentang kepastian urutannya masih diperdebatkan. Begitu juga waktu kejadiannya. Ada yang menyebut bahwa sebagian sudah terjadi ada juga yang menyebutnya belum terjadi, bahkan perdebatan ini sudah terjadi pada masa sahabat.

Jika ada kejadian di masa sekarang yang sesuai dengan tanda-tanda Kiamat yang disebutkan dalam berbagai Hadits tersebut, belum tentu itu menjadi tanda yang pasti. Bisa juga kejadian yang sama akan terjadi di masa mendatang, karena Rasul sendiri tidak mengetahui kapan tanda-tanda tersebut terjadi.

Hal ini sesuai dengan yang telah disebutkan oleh Al-Quran dalam Surat Al-Aʽrāf Syat 187 ketika Rasul SAW ditanya kapan terjadinya Kiamat:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي ۖ لَا يُجَلِّيهَا لِوَقْتِهَا إِلَّا هُوَ ۚ

“Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat, ‘Bilakah terjadinya?’ Katakanlah: ‘Sungguh pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku. Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia.”

Fakhruddin Ar-Razi menyebutkan bahwa salah satu hikmah tidak diketahuinya waktu terjadinya Kiamat adalah agar manusia tetap beribadah dan mencegah diri dari perbuatan maksiat tanpa memperhatikan kapan terjadinya kiamat.

“Adapun sebab dirahasiakannya Kiamat dari seorang hamba adalah jika mereka tidak mengetahui waktu terjadinya Kiamat, maka mereka akan senantiasa menjadikannya sebagai peringatan. Maka hal itu akan lebih dekat dengan ketaan dan menghindarkan diri dari maksiat. Kemudian sungguh Allah SWT menguatkan makna ini dengan potongan ayat, ‘Tidak seorang pun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya.’ Makna dari al-tajliyah adalah menjelaskan kedatangan sesuatu. Maksudnya, tidak akan dijelaskan waktu kejadian tersebut secara terperinci kecuali Allah SWT, yakni tidak ada yang kuasa menjelaskan waktu terjadinya Kiamat dengan kabar dan pemberitahuan kecuali Allah SWT.” (Lihat Fakhruddin Ar-Razi, Mafātīḥul Ghaib, Beirut, Dāru Iḥyā’it Turāts: 1420 H, juz XV, halaman 423).

Maka, cara bijak memahami dan mempertemukan Hadits-hadits tentang Kiamat yang berbeda-beda tersebut adalah dengan meninjau maksud Nabi SAW (maqasidi) ketika menyebutkan tanda-tanda tersebut kepada para sahabat.

Saat itu para sahabat masih bertanya-tanya tentang kebenaran adanya Kiamat. Jawaban Rasul SAW dengan menyebutkan tanda-tanda tersebut bertujuan agar para sahabat tidak menghabiskan waktunya untuk selalu memikirkan Kiamat.

Selain itu, ketidakpastian tanda-tanda Kiamat yang ada dalam Hadits Rasul SAW ini hanya sebagai penguat bahwa Kiamat pasti terjadi, tetapi tidak disebutkan kapan terjadi.

Semuanya ini bertujuan agar orang Mukmin senantiasa beribadah kapan dan di mana saja tanpa mengenal waktu. Jika Kiamat dan tanda-tandanya sudah jelas, maka setiap orang akan meremehkan ibadahnya dan hanya beribadah ketika mendekati Kiamat saja.

Refleksi

Ibn Rajab Al-Hambali (wafat 795 H.) dalam Kitab Jami’ul Ulum wal Hikam mengatakan:

لا تقوم الساعة حتي يصير العلم جهلا والجهل علما وهذا كله من انقلاب الحقائق في أخر الزمان وانعكاس الأمور

“Kiamat tidak akan terjadi hingga ilmu (yang benar) dianggap sebagai kebodohan, dan kebodohan dianggap sebagai ilmu. Itu semua terjadi di akhir zaman, saat parameter kebenaran berubah dan semua hal diputarbalikkan hakikatnya.”

Di saat kebodohan sudah dipandang sebagai kebenaran dan kebenaran adalah sebuah kebodohan, di saat itulah hari Kiamat semakin mendekat.

Apakah saat ini kita sudah atau sedang berada di zaman dimana kebenaran dan kepalsuan atau hoaks susah dibedakan?

Butuh informasi yang tepat dan analisa cermat dalam mengartikan gerak-gerik kehidupan. Tak sedikit kita melihat sebuah kebenaran dianggap sebagai sebuah kebohongan hanya karena beda persepsi atau pilihan politik.

Bila benar fenomena ini sedang terjadi, inilah indikasi bahwa hari kiamat semakin mendekat, menurut Ibnu Rajab Al Hambali lebih dari 646 tahun yang lalu (1441-795). Bandingkan dengan ciri-ciri “Zaman Edan” Ranggawarsita (1802- 1873). Lalu bandingkan pula dengan Hadits-hadits “Ruwaibidhah” (Zaman Kebodohan).

والله اعلم

Rujukan

https://brainly.co.id/tugas/5696498

https://techno.okezone.com/2019/03/14/56/2030032/ini-tanda-tanda-kiamat-dalam-penjelasan-alquran-dan-sains

https://shopee.co.id/Mukhtashar-Jami’ul-Ulum-Wal-Hikam-Ibnu-Rajab-Al-Hanbali-i.21779175.6800637171

Hits: 8