Mengapa Sumedang Harus Bangga Dengan Pertunjukan Tari Umbul Kolosal Di Jatigede Yang Melibatkan 5.555 Penari ?

Sumedang, TiNewss.com – Menjelang pergantian tahun 2019 ke 2020, Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Dinas Pariwisata Budaya Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) bekerjasama dengan Asosiasi Pemerintah Desa Indonesia (APDESI) Kabupaten Sumedang, akan mempersembahkan Mahakarya pertunjukan spektakuler Tari Umbul dengan menampilkan 5.555 Penari dari 270 Desa di Sumedang. Tulisan ini, Redaksi TiNewss.com akan mengulas tuntas tentang Tari Umbul, dan menjawab pertanyaan, Mengapa Masyarakat Sumedang Harus Bangga.

Redaksi berhasil mewawancari Kepala Dinas Parbudpora Kabupaten Sumedang, Hari Tri Santosa, dan Ketua APDESI Andre Y. Mochtar. Kami juga melakukan analisa data digital, untuk melengkapi tulisan sehingga masyarakat Sumedang bangga dengan karyanya.

Lokasi pertunjukan sengaja dilakukan di Jatigede, dalam rangka mempromosikan rencana Pemkab Sumedang menuju Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata. Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Parbudpora Sumedang, Hari Tri Santosa kepada Redaksi Tinewss.com. “Target Kita terus memperkenalkan mempromosikan Jatigede terutama untuk pencapaian KEK ke depan juga untuk meningkatkan kunjungan wisatawan,” jelas Hari.

Lebih lanjut, Hari mengungkapkan bahwa Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir, ingin lebih mengoptimalkan dan memperkenalkan budaya Sumedang. Ini untuk ngamumule budaya urang (memelihara budaya kita) yaitu tari umbul.

Di tulis pada website Kemdikbud, bahwa Tari Umbul merupakan warisan budaya tak benda yang berada di Sumedang dengan sebaran khususnya Kecamatan Situraja. Tari umbul memiliki nilai dan makna sebagai ungkapan rasa kebersamaan antar individu dalam wujud harmonisasi rasa kebersamaan, serta kekompakan dalam bekerjasama, sehingga melekat sifat kasih sayang sesama insan.

Pengemasan tari umbul yang pada awalnya sebagai seni pertunjukan berbentuk helaran (berarakarakan) yang dilaksanakan di jalanan daerah Sumedang, saat ini tari umbul telah melalui proses perkembangan. Kini tari umbul memiliki fungsi tidak hanya disajikan pada acara pernikahan, khitanan, penyambutan para tamu, festival, dan hiburan pada acara besar nasional, akan tetapi juga kini menjadi tarian bersama pada akhir pertunjukan. Dengan cara mengembangkan koreograf, karawitan dan tata busana agar tarian tersebut lebih dinamis variatif dan menarik.

” Bahkan ke depan tari umbul menjadi tarian wajib saat penerimaan kunjungan tamu dan bisa jadi mata esktra kurikuler di sekolah SMP atau SMA,” kata Hari.

Kegiatan ini, disambut baik oleh Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Kabupaten Sumedang. Melalui Ketua Apdesi, Andre Y. Mochtar, menyampaikan komitmen para pemerintah Desa se-Kabupaten Sumedang untuk mensukseskan acara tersebut. “Kami akan mensukseskan acara tari Umbul Kolosal 2019 ini,’ kata Andre kepada Tinewss.com (13/11/2019).

Dikatakan Andre, kegiatan ini dapat mengangkat potensi wisata baik alam, budaya, kuliner, di Kabupaten Sumedang. “Terlebih untuk kemajuan peningkatan ekonomi Desa,” ucapnya.

Kegiatan ini diharapkan dapat mendatangkan wisatawan dan mempromosikan potensi Desa. Ini menjadi penting dalam rangka mewujudkan kemandirian Desa. “Kami ingin membangun Kota dari Desa,” jelas Andre yang merupakan Kepala Desa Margalaksana Kecamatan Sumedang Selatan.

Pertunjukan Tari Umbul Kolosal sebanyak 5.555 penari yang berasal dari 270 Desa di Kabupaten Sumedang, akan di pertunjukan pada hari Selasa 31 Desember 2019, mulai Pukul 09:00 sampai dengan Pukul 11:30. Konfirmasi akan hadir para pejabat dari Pemerintah Pusat, Provinsi, Kabupaten Sumedang, Para Tokoh Sumedang dan Tokoh Masyarakat. “Insya Allah dari Kemenparekraf, Pak Gubernur, Forkopimda Provinsi, Anggota DPR RI dari Wilayah SMS, Anggota DPRD TK 1 Wilayah SMS, Anggota DPRD, Para Kepala SKPD, Camat dan Tentunya Para Kades seluruh Kabupaten Sumedang, plus Tokoh Masyarakat dan Tokoh Sumedang,” jelas Hari yang mengungkapkan bahwa sampai hari ini (29/12/2019) persiapan perhelatan sudah mencapai 80%.

Dalam kesempatan yang sama, Hari mewanti-wanti kepada masyarakat pengunjung untuk berhati-hati dalam perjalanan. Untuk memasuki lokasi acara, masyarakat bisa melalui jalur Tolengas Tomo, atau dari Warung Ketan Situraja, atau dari Arah Jatinunggal melalui Jalan Lingkar Timur Jatigede. “Harap berhati-hati dalam perjalanan, diprediksi akan macet karena padatnya pendukung acara dan penonton pada saat bersamaan, juga ada beberapa ruas jalan yang kondisinya kurang bagus,” tutur Hari.

Satu hal, yang harus membuat haru sekaligus bangga dengan persatuan dan kesatuan masyarakat Sumedang, Mahakarya ini melibatkan banyak orang. “Ini sejarah, ada 5.555 penari dari 270 desa dan saya lihat mereka penari antusias dalam latihan dan memeriahkan tari umbul, luar biasa angkat 2 jempol mereka keluar tenaga waktu materi untuk meningkatkan promosi tari umbul,” terang Hari dengan bangga.

Sebagai catatan, bahwa Tari Umbul Kolosal juga pernah dilakukan sebelumnya, yakni 20 Mei 2012 dengan menghadirkan 2.432 orang di Situraja, dan dengan jumlah sekitar 5.000 dilaksanakan di Kecamatan Paseh. “Jadi ini yang ke-tiga, dan terbanyak,” ungkapnya.

Akankah masyarakat antusias dengan kegiatan ini, tentu kembali kepada masyarakat Sumedang itu sendiri. Banggakah dengan budaya sendiri yang diperkenalkan kepada dunia luar, atau masih malu-malu, dan masih mau membudayakan kebiasaan asing di negeri sendiri(?). (Rauf Nuryama)***

%d blogger menyukai ini: