Menulis itu Mudah, maka Menulislah!

Anak saya senang sekali menulis. Ia mulai rajin belajar membuat komik. Komik adalah perpaduan menggambar dengan menulis. Para pelaku dalam gambar harus melakukan komunikasi. Tentu membuat komik berada pada tataran menulis tinggi. Karena selain harus bercerita dan beralur juga harus memadukannya dengan gambar yang sesuai. Persoalan bagus dan tidaknya komik buatannya, sesuai dengan taraf perkembangannya sudah sangat bagus.

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling sulit dibanding dengan keterampilan berbahasa yang lain, seperti keterampilan menyimak, keterampilan membaca, dan keterampilan berbicara.

Keterampilan menulis akan mudah manakala kemampuan siap di dalam pikiran sangat banyak. Keterampilan menulis hampir sama dengan keterampilan berbicara, memerlukan kemampuan siap yang banyak. Juga harus di dukung kemampuan memilih diksi yang baik, dan terampil menggunakan konjungsi.

Menulis dalam tataran keterampilan berbahasa bukan hanya menuliskan huruf-huruf dan bermakna, tetapi lebih dari itu. Menurut pendapat Saleh Abbas (2006:125), keterampilan menulis adalah kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui bahasa tulis. Dengan demikian jelaslah bahwa menulis dimaksud bukan hanya sebatas mengungkapkan perasaan semata.

Bagi pemula, menulis tentunya sangat sulit. Menentukan temanya saja pasti akan sulit. Belum lagi menemukan judul yang pas dengan tema akan berat. Dan yang paling sulit adalah menentukan awal tulisan. Karena di awal tulisan itu yang akan menentukan alur tulisan berikutnya. Awal tulisan pula yang menuntun pembaca untuk membaca lebih lanjut atau tidak. Oleh karenanya, buatlah judul dan awal tulisan itu yang menarik.

Sebagai pemula, setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam meningkatkan keterampilan menulis, sebagai berikut:

  1. Banyaklah membaca buku atau referensi yang akan dijadikan rujukan dalam menulis. Karena rujukan ini sangat penting dalam sebuah tulisan. Atau bacalah buku-buku, majalah atau surat kabar atau jurnal-jurnal sebanyak- banyaknya untuk menambah referensi otak kita. Semakin banyak yang dibaca, akan semakin banyak kemampuan siap kita dalam menulis. Dan semakin sedikit yang kita baca, akan semakin sedikit kemampuan siap kita untuk menulis.
  2. Pelajari gaya menulis tulisan orang lain. Pilihlah gaya tulisan yang sesuai dengan tema yang akan kita tulis. Dengan meniru gaya tulisan ini akan memudahkan dalam belajar menulis. Ingat bukan menjiplak tetapi meniru gaya penuturannya.
  3. Tentukan tema yang akan dibahas dalam tulisan. Dengan adanya tema, akan memudahkan mencari referensi dan materi yang terkait dengan tema itu.
  4. Buatlah sistematika penulisannya. Dengan membuat sistematika penulisan, akan memudahkan dalam menulis. Tata urutan yang akan ditulis makin mudah.
  5. Pilihlah diksi yang menarik dan pas dengan tema yang akan dibahas. Jangan menggunakan diksi yang sama secara terus menerus karena ini tentu akan membosankan.
  6. Pergunakan konjungsi antar kalimat atau antar paragraf yang variatif, agar tidak membosankan. Konjungsi adalah kata penghubung antar paragraf yang satu dengan yang lain. Misalnya, adapun, meskipun, sekalipun, demikian halnya, walaupun demikian, biarpun demikian, sementara itu dan lain-lain.
  7. Tulisan yang ditulis harus memiliki makna dan tujuan. Ingat menulis adalah menyampaikan atau mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada pihak lain dengan melalui tulisan. Lebih lanjutnya tulisan harus memiliki nilai.

Oleh karena menulis juga memiliki manfaat untuk merekam pikiran dan ide, maka menulislah. Dengan hasil menulis, orang dari generasi berikutnya akan mengetahui tentang apa yang kita tulis. Menulis dan menulislah!*

%d blogger menyukai ini: