Musim Hujan Telah Tiba, Waspadai Demam Berdarah. Yuk, Kenali ciri-ciri DBD dan Pencegahan Serta Tindakannya

Ilustrasi Nyamuk Aedes Aegypti, Penyebab Demam Berdarah Dengue

Sumedang, TiNewss.com – Memasuki musim hujan beberapa penyakit biasanya mulai bermunculan, Flu, Diare, Alergi bahkan Demam Berdarah Dengue (DBD). Oleh karena itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dadang Sulaeman meminta masyarakat Sumedang untuk mewaspadai munculnya penyakit-penyakit tersebut.

“Musim hujan yang biasanya mulai September sampai dengan Maret, namun kini datang terlambat dan baru mulai sekitar awal tahun baru, perlu mendapat perhatian bersama maksimal sampai dengan bulan Mei 2020, untuk terhindar dari kemungkinan penyakit tersebut,” jelasnya kepada Media di Kantornya, kamis (16/1/2020)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Dadang Sulaeman bersama dengan Kabib P2P, Renny Kurniawati Anton, saat memberikan Konferensi Pers
di Kantor Dinkes, Kamis (16/1/2020)

Didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr. Renny Kurniawati Anton, Beberapa Kepala Seksi pada bidang P2P, Dadang, menyampaikan bahwa DBD disebabkan oleh Virus Dengue. Virus ini menyerang segala usia, dan disebarkan oleh Nyamuk Aedes Aegypti. Dan nyamuk ini, biasanya baru muncul ketika musim penghujan datang. “Itulah kenapa, penting untuk disampaikan ke masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan munculnya penyakit DBD,” terang Dadang.

Namun demikian, Dadang juga menyampaikan kegembiraannya bahwa Indeks Pembangunan Kesehatan di Kabupaten Sumedang semakin Baik. Indikasinya adalah banyak atau tidaknya jumlah kasus, dan 2019 Kabupaten Sumedang terjadi penurunan yang signifikan.

Menurut Kepala Dinas, keberhasilan menurunkan jumlah kasus ini tidak terlepas dari faktor-faktor yang terkait dengan program pemerintah yang dijalankan bersama-sama dengan masyarakat, terutama dilingkungan perkotaan. “Faktor menurunnya jumlah suspect, Kami yakini, ini adalah buah dari program komprehensif Bapak Bupati Sumedang, yakni Jum’at Bersih, pembangunan IPAL komunal (Red: Instalasi Pengolahan Air Limbah, biasanya limbah WC), dan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya kesehatan,” jelas Dadang.

Dalam kesempatan yang sama, Kabid P2P, Renny menjelaskan tentang gejala-gejala yang terjadi terhadap penyakit DBD. Ada tiga tahapan seseorang yang mendapatkan gejala DBD. Pertama, adanya demam antara 2-7 hari, dimana pada hari ke-tiga biasanya demam turun sampai hari ke-lima, yang kemudian naik lagi sampai hari ke-tujuh. Kedua, mengigil, sakit kepala serta tidak nafu makan. Dan Ke-tiga, mual serta muntah disertai nyeri ulu hati.

“Jika terjadi indikasi demikian, diharapkan masyarakat untuk segera melaporkan kepada kami, melalui Puskesmas terkedat atau langsung ke Dinas Kesehatan, agar Tim segera melakukan pemeriksaan di lokasi kejadian,” jelas Renny.

Pihak Dinas Kesehatan Sumedang, akan melakukan tindakan-tindakan sebagaimana yang seharusnya terjadi. Menurutnya, masyarakat penting untuk mengetahui dan memahami langkah-langkah ini, agar tidak terjadi masalah dikemudian hari. “Kami sering mendapatkan permintaan Fogging, padahal sebenarnya itu berbahaya. Karena, Fogging itu untuk membunuh Nyamuk Dewasa. Artinya, jentik dan telur nyamuk tidak akan mati dengan fogging, selain malah membuat mereka kebal, ini bahayanya,” jelas Kabid Renny.

Oleh karenanya, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, meminta bantuan media agar membantu menyosialisasikan langkah-langkah penanganan jika ada indikasi DBD di wilayah Sumedang.

Kami melakukan penyelidikan epidemiologi kasus dan analisa hasil PE (Fogging atas indikasi). Meningkatkan penyuluhan dan peran serta masyarakat, juga kami melakukan sosialisasi Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J). Selain itu Dinkes juga melakukan pembentukan kader Jumantik di Desa dan Kelurahan. “Juga sesuai dengan Surat Edaran Bupati tentang peningkatan kewaspadaan dini terhadap penyakit DBD, yakni dengan meningkatkan PSN 3 M Plus dan kegiatan Jumsih di seluruh SKPD dan lingkungan masyarakat,” tuturnya.

Sebagaimana diketahui Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan 3M sangat membutuhkan peran masyarakat. Program ini baik pemerintah dan masyarakat perlu terus dilakukan secara berkelanjutan sepanjang tahun khususnya pada musim penghujan. Program PSN yang dimaksud adalah berbagai kegiatan yang meliputi:

  1. Menguras, adalah membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain;
  2. Menutup, adalah menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya;
  3. Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang barang bekas yang memiliki potensi untuk jadi tempat perkembangbiakan nyamuk penular Demam Berdarah.

Adapun yang dimaksud dengan 3M Plus adalah segala bentuk kegiatan pencegahan seperti:

  1. Menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan;
  2. Menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk;
  3. Menggunakan kelambu saat tidur;
  4. Memelihara ikan pemangsa jentik nyamuk;
  5. Menanam tanaman pengusir nyamuk;
  6. Mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah;
  7. Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk, dan lain-lain.

Sedangkan tentang Fogging, Renny menjelaskan baru akan dilakukan tindakan jika ditemukan 1 atau lebih penderita infeksi dengue, dengan dibuktikan dengan hasil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan penunjang, yakni hasil serologis positif dengue. Atau ditemukan 3 penderita suspek infeksi dengue, dan angka bebas jentik mencapai <95% dari jumlah bangunan atau rumah yang diperiksa dalam radius 100 meter dari lokasi kejadian

Fogging akan dilakukan dengan terlebih dahulu melakukan penyuluhan, PSN, 3 M Plus dan larvasida selektif,” tandas Renny. (Rauf Nuryama)***

%d blogger menyukai ini: