Narasi

Founder Tinewss.com

Dr. Asep D. Darmawan, Wakil Ketua ICMI Orda Sumedang

Narasi tetiba jadi populer gara-gara Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memberikan pesan kepada milenial. Gubernur Anies memberikan pesan kepada milenial terkait pentingnya narasi. Dia menyebut bekerja tanpa narasi akan menjadi sia-sia.

“Sering kali, akhir-akhir ini, kata-kata dianggap nggak penting yang penting kerja. Tahu kah Anda siapa yang jadi person of the year tahun 2019 di Majalah Times? Bikin apa dia? Bikin movement pakai apa? Kata-kata,” kata Anies di depan para milenial di acara Milenial Fest 2019, di Balai Sarbini, Jakarta Pusat, Sabtu (14/12/2019).

Selanjutnya, Anies menyebut seorang pemimpin harus mampu berkomunikasi dan memiliki gagasan untuk diterjemahkan menjadi narasi. Lalu narasi, menurut Anies, bisa dijadikan aksi.

Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, narasi adalah salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan yang rangkaian peristiwa dari waktu ke waktu dijabarkan dengan urutan awal, tengah, dan akhir. Jadi narasi termasuk jenis-jenis karangan yang diantaranya narasi, eksposisi, deskripsi, argumentasi dan persuasi.

Sementara kata /narasi/ dalam pengertian Anies bisa digambarkan sebagai sebuah ungkapan kata-kata yang merujuk pada ide atau gagasan tertulis atau terlisan yang bisa diterapkan dalam wujud kerja. Jadi ide atau gagasan dituangkan dalam bentuk tulis atau lisan yang bisa dijadikan panduan atau dasar dalam melakukan kerja. Sehingga dari kerja ini akan menghasilkan kinerja yang dapat diukur dari output dibanding dengan target kinerja yang telah dikerjakan.

Apabila dilihat dari dua pemahaman itu, tentu kata /narasi/ memiliki perluasan makna. Dan ini tidak masalah bahkan akan memberikan dampak positif bagi perkembangan bahasa terutama kata /narasi/.

Terlepas dari pemaknaan tersebut, pandangan Anies tentang perlunya narasi sangat dibutuhkan. Tentu ini bertolak belakang dengan paham yang selama ini lebih mementingkan kerja dibanding narasi.

Kerja tanpa narasi –seperti yang telah dijelaskan di atas– maka kerja tidak memiliki panduan yang jelas. Bisa jadi kerja dan kerja tanpa ada target kinerja.

Oleh karenanya, mengembangkan kemampuan narasi tetap harus ditumbuhkan dalam pembelajaran di sekolah atau perguruan tinggi. Tentu ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi Mendikbud Nadiem yang cenderung lebih suka pada hal hal pragmatis yang dibutuhkan dunia kerja. Padahal pendidikan tidak semata untuk mengejar kerja.*