Patut Di Duga, Inilah Biang Kerok Terjadinya Banjir Lumpur Cimanggung – Jatinangor

Sumedang, TiNewss.com – Curah hujan tinggi mengakibatkan sejumlah tempat di Jawa Barat, termasuk beberapa titik di Sumedang mengalami banjir. Disinyalir banjir tersebut, karena air yang mengalir tersumbat sampah dan kecilnya selokan atau saluran air pembuangan. Tak hanya itu, pembangunan perumahan di sekitar Gunung Geulis di duga juga memberikan efek terjadinya Banjir Lumpur di sekitar Cimanggung, Jatinangor dan Kawasan Jalan Bandung Garut KM 23, pada Minggu sore (9/2/2020).

Demikian disampaikan oleh beberapa anggota DPRD Kabupaten Sumedang, saat melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) yang dilaksanakan kemarin (10/2/2020) di sejumlah tempat di Kawasan Barat Kabupaten Sumedang.

Salah satu yang menyampaikan analisa ini adalah Warson, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Sumedang kepada Media.

Menurutnya, “setelah dilakukan pengecekan, sumber air terbesar di kawasan Jatinangor dan Cimanggung itu berasal saat hujan turun, Kami menduga, salah satunya berasal dari adanya sejumlah proyek perumahan di kawasan Gunung Geulis.”

Warson meminta semua pihak terkait untuk memperhatikan peristiwa banjir lumpur dan banjir di jalur nasional Bandung-Garut KM 23. “Perlu perhatian semua pihak, sehingga resiko yang terjadi dapat di minimalisir,” terang Warson.

Sidak yang dilakukan Anggota DPRD Sumedang, diikuti oleh Komisi II dan Komisi IV serta sejumlah petugas dari Dinas PUPR Kabupaten Sumedang, SatpolPP dan instansi terkait lainnya. Menurut Ketua Komisi IV, Asep Rony Hidayat, lokasi yang dijadikan suspek peninjauan penyebab terjadinya Banjir di Cimanggung dan Jatinangor. Yakni sejumlah proyek perumahan di Kaki Gunung Geulis.

“Hari ini kami lakukan peninjauan, apa sebenarnya yang menjadi penyebab banjir lumpur di kawasan Jatinangor dan Cimanggung termasuk banjir musiman di jalan raya Bandung-Garut KM 23 (dikenal dengan Banjir Kahatex),” ujar Asep Rony Hidayat.

Lebih lanjut Asep mengatakan, ada beberapa kemungkinan penyebab terjadinya banjir di wilayah tersebut, selain karena curah hujan yang tinggi diperparah dengan saluran air yang dinilai kurang besar.

“Selanjutnya, perlu ada tindakan dari berbagai pihak terkait untuk bersama sama mengatasi persoalan itu,” katanya.

Untuk itu Dewan mengusulkan untuk melakukan pembenahan Fasos dan Fasum oleh pihak yang bersangkutan. (Rauf Nuryama)***

%d blogger menyukai ini: