Shalat Jum’at Dimana? Masjid Agung Sumedang Stop Sementara!

Sumedang, TiNewss.com – Dengan memperhatian dan memberikan pertimbangan banyak hal, akhirnya Masjid Agung Sumedang terhitung mulai hari Jum’at ini (27 Maret 2020) sampai batas waktu yang belum ditentukan akan menghentikan sementara ibadah (ritual) Shalat Jum’ah.

Hal ini disampaikan oleh Imam Besar Masjid Agung Sumedang, KH Drs. R. Cecep Mubarok, MH melalui Maklumat (Pengumuman) DKM Masjid Agung Sumedang, yang diterima Redaksi TiNewss.com (26/3/2020)

Memperhatikan situasi yang semakin memburuk dan sulitnya mengandalikan ketaatan terhadap protokol sosial distance pencegahan copid-19, Pemerintah telah meningkatkan protokol pencegahan dengan physical distancing (jaga jarak pisik perorangan).

Kondisi di atas nampaknya akan mengalami kesulitan untuk menyatakan bahwa Jama’ah Masjid Agung Sumedang homogen. Oleh karena itu perlu dikaji lagi ikhtiyar kita pada Minggu yang lalu tentang shalat Jum’at.

Dengan mendasarkan pada kaidah :
درء المفاسد مقدم على جلب المصالح
Menolak mafsadah (kerusakan) harus didahulukan daripada menarik kemaslahatan.
تغير الأحكام بتغير الازمنة والامكان والاحوال.
Berubahnya hukum karena berubahnya zaman, tempat dan keadaan (situasi dan kondisi)
الحكم يدور مع علته وجودا وعدما
Hukum itu berputar beserta illatnya baik adanya maupun tidak adanya hukum.

Hadits Rasulullah SAW : tentang Sosial Distancing atau berdiam diri di rumah di saat ada wabah melanda:
من جلس في بيته في وقت وقوع الطاعون فله أجر الشهيد وإن لم يمت..
Bagi siapa yang diam diri di rumah pada waktu ada wabah tha’un, maka akan mendapat pahala orang yang mati syahid, meskipun dia tidak mati“.
عن عائشة أم المؤمنين رضي الله عنها قالت : سألتُ رسولَ اللهِ ﷺ عن الطاعونِ ، فأخبَرَني رسولُ اللهِ ﷺ: أنَّه كان عَذابًا يَبعَثُه اللهُ على مَن يَشاءُ، فجعَلَه رَحمةً للمُؤمِنينَ، فليس مِن رَجُلٍ يَقَعَ الطاعونُ فيَمكُثُ في بَيتِه صابرًا مُحتَسِبًا يَعلَمُ أنَّه لا يُصيبُه إلّا ما كَتَبَ اللهُ له إلّا كان له مِثلُ أجْرِ الشَّهيدِ.
“Diceritakan dari A’isyah r.a.: Saya bertanya kepada Nabi Muhammad saw tentang wabah tha’un. Beliau menjawab: “Sesungguhnya tha’un itu adalah peringatan dari Allah bagi siapa saja yang Dia kehendaki dan rahmat bagi orang-orang beriman. Tiada orang yang pada saat musim wabah tha’un melanda dan dia berdiam diri di rumah dengan sabar dan beribadah kepada Allah yang sekiranya dia tau dengan berdiam diri itu terhindar dari tha’un kecuali Allah mengtaqdirkannya, maka dia akan dicatat pahala orang syahid“.


إسناده صحيح على شرط البخاري • أخرجه البخاري (٣٤٧٤)، والنسائي في «السنن الكبرى» (٧٥٢٧)، وأحمد (٢٦١٣٩) واللفظ له.

قال ابن حجر رحمه الله : “اقتضى منطوقه أن من اتصف بالصفات المذكورة يحصل له أجر الشهيد وإن لم يمت “.
[فتح الباري (194/10)]

Dan dalil-dalil syar’i yang lain yang berkaitan dengan masalah di atas.

Ittiba’an kepada pendapat jamahirul ulama tentang kebolehan meninggalkan Shalat Jum’at termasuk fatwa MUI Pusat dan Propinsi Jawa Barat serta setelah berkoordinasi dengan Bupati Sumedang dan saran-saran Dewan Imam dan Penasehat Mesjid Agung Sumedang.

“Maka atas dasar pertimbangan tersebut. di atas, sudah cukup alasan untuk menghentikan sementara sholat Jum’at di Mesjid Agung Sumedang dan mengganti dengan sholat Dzuhur di rumah masing-masing,” jelasnya. (Rauf Nuryama)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: