Sumedang Nyaman Bagi Pemudik (?), Ribuan Warga ‘Pulang Kandang’

Sumedang, TiNewss.com – Corona yang sudah ditetapkan sebagai Pandemi Global di oleh WHO, dan Pemerintah Pusat sudah memberlakukan Keadaan Darurat Sipil. Kini beberapa daerah sudah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau lebih dikenal dengan sebutan ‘Lockdown‘ walaupun berbeda arti.

DKI Jakarta yang pertama menginisiasi pemberlakukan status tersebut, dan diikuti dengan oleh beberapa daerah di Indonesia. Walaupun belakangan muncul istilah lokdon, Laukdaun, downlod, atau apa saja. Namun intinya adalah melakukan pembatasan orang luar tidak boleh masuk, orang dalam tidak boleh keluar.

Namun larangan, tinggal larangan. Puluhan ribu warga Sumedang ‘Larang’, tidak kuasa bertahan di Ibu kota. Mereka memilih pulang dengan berbagai alasan. Diluar Bis, ratusan mobil travel dan mobil sewaan lainnya berdatangan dari Jakarta, Bekasi, Bogor dan Tangerang ke Sumedang.

Tak pelak, Sumedang menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang tiba-tiba memiliki ODP sangat tinggi. Hanya dalam hitungan hari, bukan lagi deret ukur yang ada, angka terpampang, mulai dari hanya sekitar 30 an, berubah menjadi 100, 1.000, 3.000 dan sempat tembus angka 18.000.

Tentu saja ini menjadi resiko besar.? Hingga Gubernur Jawa Barat menetapkan siapapun yang mudik akan ditetapkan menjadi ODP, dan harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari. Bahkan hingga Kampanye Warga Dilarang Mudik.

Belakangan mereka yang sebelumnya di sebut dengan ODP Beresiko, digolongkan ke dalam katagori ODR atau Orang Sehat Dalam Resiko, yang istilah tersebut tidak dikenal dalam laporan Juru Bicara Corona Nasional Indonesia.

Cerita dari berbagai Kecamatan, para pemudik cukup menggetirkan. Mereka dalam kondisi kebingungan. Pulang, mereka bingung takut tidak diterima warga. Diam di Jakarta, usaha pun tidak berjalan, karena kebanyakan kantor libur, dan Jakarta seperti kota mati.

“Saya, sebenarnya antara takut dan bingung. Pulang, takut saya membawa penyakit. Bingung, tinggal di Jakarta pun, tidak usaha. Makan tetap perlu, sedangkan keluarga di Kampung sangat berharap saya datang, karena tugas saya mencari nafkah buat anak dan istri,” kata Seorang pemudik dari Cibugel kepada Tinewss.com.

“Kalau di sini (Cibugel, Sumedang), setidaknya kalau pun saya tidak punya uang, ke kebun atau ke ladang, buat makan masih bisa,” tambahnya dengan nada sangat sedih menahan tangis. Hal ini sama juga disampaikan beberapa pemudik lainnya.

Kekhawatiran Pemudik, juga menjadi kekhawatiran penduduk yang setempat. Mereka khawatir, datangnya tetangga dari Kota, takut membawa bencana. Bahkan sampai ada, tetangga memilih pindah sementara ketika datang tetangganya dari Kota.

Sebut saja namanya Andi. Dia memilih berpindah ke rumah orangtuanya beserta anak dan istrinya, ketika ada tetangga rumahnya mudik dari Tangerang. “Hanya untuk keamanan dan kenyamanan saja Kang, Kami lebih memilih pindah sementara ke rumah mertua,” katanya tanpa mau disebutkan namanya.

Namun, Sumedang yang Simpati. Berbeda dengan daerah lainnya. Warga Cibugel misalnya, ketika ada pendatang mereka secara sukarela mendata dan memberikan edukasi kepada Pemudik yang datang. Mereka memaksa tetangganya untuk diam di rumah, selama 14 hari. Karantina mandiri berjalan disini. Mereka bukan hanya bersimpati, lebih besar dari situ, Empati.

Pelajaran sangat berharga dari kasus Corona. Bahkan Bupati Sumedang, mengajarkan kepada warganya, untuk berempati. Ketika ada warga Bandung meninggal karena corona, ditolak dimakamkan dimana-mana, Sumedang menerimanya. Warga yang menolak pun, kini pasrah menerima. Pertanyaan sederhana yang sulit dijawabnya, “Bagaimana kalau mayat itu adalah Anda atau keluarga Anda?“. Diam seribu bahasa.

Atau ketika Warga Paseh, mendapatkan kabar bahwa pasien PDP yang sebelunya postif Rapid test, kemudian dinyatakan negatif hasil SWAB Test, disambut suka cita, seolah menyambut pahlawan menang dari peperangan. Itu, semuanya karena Sumedang beda dengan daerah lainnya.

Kehebohan dan ketakutan dibuat dan hanya ramai di media massa, termasuk media sosial. Malah membuat orang semakin takut. Tapi tidak demikian halnya di dunia nyata. Jalanan di Sumedang, ramai seperti biasa. Bahkan petani petani yang ada, melakukan aktivitas seolah tak ada masalah korona (corona kata orang Sumedang).

Sumedang malah panen padi melimpah di musim korona, Sebentar lagi Sumedang akan Panen Kopi. Kalau para ekonom memperkirakan pertumbuhan akan negatif, Sumedang bisa jadi tumbuh positif. Pendudukan Sumedang menurut sensus ekonomi, mayoritas sebagai petani dan buruh tani, Sumedang bukan tidak peduli dengan penyakit misteri. Karena misteri, sudah menjadi budaya bagi warga Sumedang. hehehe.

Jadi masihkah ada warga yang mau mudik hari ini? Tidak pernah ada yang bisa melarang warganya untuk datang. Apalagi mereka punya saudara dan kampung halaman. Hak mereka untuk ‘Pulang Kandang‘, tak ada yang bisa melawan.

Mental Sumedang, adalah mental Pejuang. Pangeran Sumedang, melawan Belanda adalah sebuah Kenangan. Bahkan Sumedang tempat yang nayaman bagi Pribumi yang melawan, Sehingga kini menjadi Pahlawan. Nyut Nyak Dhien. Dia tinggal di Sumedang, hingga dimakamkannya.

Bukan karena tidak takut penyakit datang. Namun, Bingung siapa yang dilawan siapa? Tidak kelihatan. Akankah menjadi perang puputan atau perang semesta? Asep Sumaryana. Anggota DPRD Sumedang, Fraksi PAN menyatakan, Kita sekarang harus perang Semesta.

Dalam tulilsan berikutnya, TiNewss akan membahas, apa yang disampaikan oleh Anggota DPRD Sumedang terhadap langkah Pemerintah Kabupaten Sumedang? Bagaimana evaluasi mereka setelah beberapa hari melakukan reses dan turun ke lapangan? Secara Ekslusif TiNewss mewawancarai Wakil Ketua DPRD Sumedang, Jajang Heryana. Ketua Komisi I Asep Kurnia, dan Anggota DPRD dari PAN Asep Sumaryana.

Supaya tidak ketinggalan update beritanya ikuti link facebook TiNewss.com, atau bergabung dengan Group WA Forum Pembaca TiNewss.com. Pada link di bawah ini.

Klik Like untuk mengikuti Fanpage TiNewss.com

Klik Link Ini untuk bergabung dalam Group WA Forum Pembaca TiNewss.com

 

Salam dari Redaksi.