‘Surat Cinta’ Untuk Presiden, Gubernur dan Bupati Sumedang Dari Warga Yang Terisolasi Corona

Sumedang, TiNewss.com – Banyak sendi kehidupan yang kemudian berubah. Setelah perubahan sosial yang biasanya dilakukan dengan dekat dan terbuka, kini harus berjarak bahkan tertutup. Social Distancing. Keputusan Pemerintah untuk masyarakat yang ODP, PDP bahkan yang sehat harus diam di rumah. Kini sudah mulai menggerus sendi kehidupan yang lain.

Ekonomi. Tidak sedikit masyarakat yang mengeluh dengan kebijakan ini. Tidak sedikit warga yang memaksakan diri ditengah resiko yang sangat tinggi untuk terus keluar rumah, mencari nafkah. Kalau tidak karena urusan perut, mungkin mereka juga tidak masalah. ratusan pengguna facebook dalam monitoring yang di lakukan oleh Tim Redaksi TiNewss.com menyampaikan keluahn yang sama, senada dan seirama.

Keputusan Pemerintah meminta warga diam di rumah, tidak bekerja harus bekerja di rumah, meminta perusahaan stop operasional. Tanpa dibarengi dengan solusi mengamankan keuangan keluarga. Keuangan Perusahaan. Bahkan keuangan perusahaan lama-lama akan tergerus, karena tetap harus membayar gaji, sedangkan pendapatan sama sekali tidak ada.

Pondasi ekonomi kita sangat lemah, rapuh. ketika goncangan baru terjadi saja, tidak ada yang bisa bertahan lama. Tidak sedikit diprediksi akan banyak perusahaan gulung tikar, apalagi dengan Rupiah yang semakin terpuruk di 1 minggu terakhir.

Redaksi memberikan satu ilustrasi, yang dibuat oleh pengguna facebook Riska Rosdiana. Pada saat tulisan ini dipublikasikan, tulisan Riska Rosdiana dalam 14 Jam sudah disukai 1,4 ribu, komentar 1 ribu dan dibagian 2.3 ribu kali. ‘Surat Cinta” Riska Rosdiana ditujuan dengan tag foto Presiden Jokowi, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, dan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir.

surat cinta untuk bapak2 ku yang terhormat:
Kami ingin sekali memenuhi semua himbauan bapak tentang lockdown

#dirumahaja..

Namun jika pejuang nafkah kami..
tulang punggung keluarga kami #dirumahaja..
siapa yang akan menanggung kebutuhan dapur kami..
perut kami..
jajan anak2 kami..
angsuran kami..??

Kami bukan mereka yang memiliki saldo berjejer angka nol di dalam rekening yang bahkan dipakai kebutuhan sebulan dua bulan pun nol nya tak berkurang..
kami bukan golongan berdasi berpangkat dan berseragam yang walau hanya

#dirumahaja pun dapat gaji..

Kami pejuang harian yang jika tak mengais nafkah sehari saja dampaknya akan sangat terasa..
Kami bukan tidak mengikuti himbauan bapak untuk #dirumahaja..
Namun seperti yang saya ungkapkan di atas jika kami tak bekerja kami tak makan😌..
Di satu sisi kami takut terpapar wabah..
di sisi lain kami takut anak anak kami tak dapat makanan😐
Tolong beri kami solusi untuk segala kerumitan yang ada dalam fikiran kami😢
Semoga para pejuang nafkah kita dilindungi Allah..diberikan kesehatan.
Aamiin..

Yang merasa sama boleh di share semoga sampai pada bapak2 kita.

Tentu bukan hanya Riska Rosdiana, Hari ini, Tim Redaksi Kami juga menerima keluhan dari Tukang Becak yang biasa mangkal di Panyingkiran. Seharian hanya menghasilkan uang Rp 20.000,- Sore sekitar Jam 4, dengan berlinang air mata,

“Bagaimana kami bisa bertahan Pak. Sampaikan agar Bapak-bapak yang diatas memikirkan Kami,” katanya. Tanpa menyebut nama, si Bapak ini memiliki 1 orang istri dan 3 anak di rumahnya.

“Seandainya saja, setip hari ada yang sedekah jum’at (Red: bagi-bagi makan gratis, yang biasa ada setiap hari Jum’at), mungkin perut ini masih bisa terisi pak,” katanya lirih. (Rauf Nuryama)***

Sumber: Faceboo Riska Rosdiana

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: