Warga Tuntut Transparansi Data Covid-19, Lembaga Survey Kemana?

Sumedang, TiNewss.com – Banyak warga masyarakat yang tidak percaya dengan data yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Data sebaran berapa orang, dan dimana saja mereka yang terinfeksi Covid-19. Seperti yang di sampaikan oleh Tifauzia Tyassuma, seorang dokter, peneliti dan penulis dalam akun facebooknya @Tifauzia Tyassuma (31/03/2020)

Banyak hal yang disampaikan Tifauzia, dan menarik bagi komentator untuk memberikan masukan, kritikan bahkan inspirasi bagi yang lainnya.

  • @Beny Irwansyah misalnya, “saran saya ada lembaga survey juga ikut dalam memberi info kepada masyarakat memberikan data yang valid karena ini masalah bersama bukan pemerintah saja.

  • @AriDanaFauzan : :Jangan lupa tampilin quick count nya

  • @Benny Ahmad Yulianto : asal jangan salah input

  • @thoriq Anam : hehehe

Sampai berita ini diturunkan sudah dilike lebih dari 500 kali dan Berikut pernyataan lengkap dokter Tifauzia :

DATA MANA YANG DIPEGANG RAKYAT?

Saya ingin sampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia, bahwa di hari ke 30, dan seterusnya, sulit bagi kita memegang data laporan kasus yang disampaikan Jubir setiap hari. Data yang disampaikan Jubir berasal dari data kasus yang ditemukan berdasarkan laporan Rumah Sakit dan Daerah, yang tentu kita tahu, jauuh lebih sedikit dibandingkan kasus positif yang seharusnya tertapis, dan jauuuh lebih sedikit lagi dibandingkan kasus riil yang terjadi di lapangan.

Lalu DATA apa yang harus jadi pegangan, supaya kita tahu perkembangan kasus COVID 19 ini?

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, yang bisa menjadi pegangan valid adalah Model Prediksi Epidemiologi.

Di bawah adalah infografik dari BAPPENAS. Angkanya malah jauh lebih fantastis dari angka yang saya peroleh.

Puncak kasus menurut versi Dokter Tifa sebesar 1,240,000 dengan jumlah kematian mencapai 104,160

(Perlu segera siapkan kuburan massal dengan protokol jenazah pandemi yang harus segera disosialisasikan kepada seluruh Daerah).

Puncak kasus menurut versi Bappenas sebesar 2,500,000 dengan jumlah kematian 210,000 (berdasarkan case fatality rate 8,4% realtime).

Mengapa saya bilang bahwa, setelah kasus ke 1000+ tercapai, sulit bagi kita mempercayai Data kasus yang dilaporkan oleh Jubir?

Karena:

  1. Screening test yang dibeli dari Cina hanya 500,000 dan itupun tidak terbagi merata, dan hanya orang-orang tertentu, justru dengan risiko minimal, yang mendapat fasilitas Rapid Test.
  2. Diagnostik test seperti PCR jumlahnya sangat terbatas, hanya bisa dilakukan di 13 Rumah Sakit di Indonesia dari 3.000 Rumah Sakit yang ada, dan beberapa lembaga tertentu.
  3. Tidak adanya mekanisme penyisiran kasus di setiap daerah, akibat dari sangat sedikitnya fasilitas pemeriksaan untuk menapis COVID 19 ini.

Maka percaya atau tidak percaya, kita harus percaya kepada Model Prediksi yang dibuat oleh Para Ahli Epidemiologi.

Menurut perhitungan saya, hari ini, akhir Maret 2020, kasus tertapis sekitar 6,000 dengan jumlah kasus riil 162,000, di 30 Provinsi dengan 50% kasus di DKI Jakarta.

Rakyat Indonesia bergerak menjadi ODP (Orang dalam Pemantauan) dan PTG (Pasien Tanpa Gejala).

Intervensi apakah yang bisa dilakukan pada titik sekarang untuk -setidaknya- melandaikan grafik?

Usul saya hanya satu:
PERKUAT IMUNITAS DIRI ANDA DAN KELUARGA.
BUAT MIKROBIOTA USUS ANDA MENJADI PABRIK IMUN.
BERI MEREKA MAKAN BANYAK TETUMBUHAN SESEGAR MUNGKIN

Hayuuk lakukan!

Tifauzia Tyassuma
Dokter, Peneliti, Penulis
AHLINA Institute

Hal yang sama disampaikan oleh : 

  • @ArifBudiman : 283 itu lebih tinggi dari data kematian nasional hari ini. hanya karena masih suspect, belum sempat keluar hasilnya, maka angkanya tidak dimasukan dalam data statistik pemerintah pusat, tapi faktanya mereka yang meninggal dikebumikan dengan protap covid-19, sambil menyertakan link detik.com tentang pernyataan Anies Baswedan soal 283 orang dimakamkan dengan protap corona. (Admin)